Artikel

Absurditas Tokoh Budi Darma

| Selasa, 21 September 2021

Absurditas Tokoh Budi Darma

Oleh S. Prasetyo Utomo

            Siapa pun yang bertemu dengan Budi Darma akan memberi kesaksian bahwa ia bersikap lembut, sopan, dan rendah hati. Karakternya paradoks dengan tokoh-tokoh yang diciptakan dalam teks sastra. Dalam pengantar novel Olenka (Balai Pustaka, 1983) dikatakan bahwa manusia (tokoh) teks sastranya absurd sehingga memengaruhi tindakan-tindakannya. Budi Darma berbeda dengan Kafka yang memandang kehidupan ini absurd.

            Absurditas tokoh telah menjadi obsesi penciptaan Budi Darma dalam cerpen “Secarik Surat” yang dipilih Ajib Rosidi dalam buku Laut Biru Langit Biru (Pustaka Jaya, 1977). Absurditas tokoh yang memikat empati pembaca ini ditulis Budi Darma sebelum kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington (1981). Begitu juga dalam cerpen “Potret Itu, Gelas Itu, Pakaian Itu” yang dipilih Taufiq Ismail dalam Horison Sastra Indonesia 2: Kitab Cerpen (Horison, 2002), ia juga menghentak struktur narasi dengan absurditas tokoh “perempuan itu”.

Kemustahilan, ketidakpastian, kematian yang tak terduga, bahagia, sedih, tangis, dan tawa datang silih berganti mewarnai hidup tokoh teks sastra Budi Darma. Absurditas tokoh teks sastranya melukiskan kerapuhan dan keterbatasan hidup manusia yang bergulat dengan peristiwa-peristiwa tak terduga. Kejutan-kejutan berkelebat dalam struktur narasi dan teka-teki menjadi bagian tak terpisahkan dari penafsiran kita atas teks sastra yang diciptakannya.

                                                      ***

Menafsirkan teks sastra yang diciptakan Budi Darma tak bisa lepas dari pernyataan proses kreatifnya. Dalam pengantar novel Olenka, ia menyampaikan pernyataan, “Saya ingin menulis, maka saya menulis. Kejadian-kejadian dalam cerita muncul pada waktu saya menulis dan sama sekali tidak terjadi kesengajaan karena saya percaya bahwa pada waktu seseorang menulis, dia menemukan sesuatu”. Ia juga menyatakan bahwa menulis merupakan uji coba setiap penulis terhadap kepribadiannya sendiri yang dinamakannya sebagai solilokui.

Teks sastra yang diciptakan Budi Darma dalam “proses menulis” itulah yang melahirkan struktur narasi tak terduga, autentik, dan penuh dengan kejutan-kejutan. Dalam wawancara saya kepada Budi Darma mengenai penciptaan teks sastra, ia menyarankan agar sebuah karya yang baru kita tulis tidak langsung dikirim ke media massa. Ia menghendaki teks sastra itu diendapkan beberapa waktu, kemudian ditinjau kembali. Peran kita sebagai pencipta teks sastra sudah usai. Pengarang kini berperan sebagai kritikus bagi teks sastra yang diciptakannya.

Saya menandai sejak awal mula proses menulis teks sastra yang dilakukan Budi Darma, ia senantiasa berpusat pada absurditas tokoh yang menghadapi peristiwa-peristiwa tak lazim, aneh, dan irasional. Begitu juga dengan tiga teks sastra karya beliau yang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas, ia berpusat pada absurditas tokoh-tokohnya. Bermula dari cerpen “Derabat” (Penerbit Buku Kompas, 1999), berlanjut dengan “Mata yang Indah” (Penerbit Buku Kompas, 2001) dan “Laki-Laki Pemanggul Goni” (Penerbit Buku Kompas, 2013), Budi Darma menghadirkan tokoh-tokoh absurd yang mempertaruhkan nasib hidup mereka. Peristiwa-peristiwa tak terduga silih berganti menghantam tokoh-tokoh kisahnya, pergulatan nasib yang  penuh dengan tempaan kehidupan  yang keras, seringkali mengejutkan, dan berakhir secara tak terduga.

“Derabat” yang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1999 memunculkan konflik pada tokoh Matropik, seorang pendatang, berperilaku kejam, suka menyiksa, membunuh binatang buruan, dan cara makannya pun rakus. Absurditas tokoh Matropik lebih dipertajam lagi dengan perilakunya yang suka mabuk, meneriakkan kata-kata kotor, cabul, menjijikkan, suka telanjang, mengejar-ngejar perempuan. Eksplorasi absurditas tokoh tak hanya berhenti sampai di situ. Ia mengisahkan Derabat, seekor burung jahanam, sangat besar, sangat hitam, sangat cekatan. Matanya menyorotkan sinar jahat, nafsu mencuri, merusak, mencelakakan siapa pun. Bermula dari absurditas tokoh inilah Budi Darma mengembangkan struktur narasi yang tak terduga dan menyentuh empati pembaca akan kisah-kisahnya.

Budi Darma menerima penghargaan cerpen terbaik pilihan Kompas untuk kedua kalinya melalui karya “Mata yang Indah”. Absurditas tokoh dengan karakter yang unik, menyimpang dari kelaziman, irasional,  menjadi obsesi cerita. Ia menghadirkan tokoh Haruman yang diminta ibunya melakukan pengembaraan untuk mencari pengalaman. Seekor burung menyerang mata Haruman, tetapi ia bisa menyelamatkan diri. Ketika Haruman pulang dari pengembaraannya, ia menemukan ibunya menjelang meninggal. Pada saat itulah sepasang mata Haruman buta.

Untuk ketiga kalinya ia menerima penghargaan cerpen terbaik pilihan Kompas dengan karya “Laki-Laki Pemanggul Goni”. Budi Darma konsisten memanfaatkan absurditas tokoh untuk mengalirkan struktur cerita. Tokoh Karmain menyaksikan laki-laki pemanggul goni yang selalu mengawasinya. Absudritas tokoh laki-laki pemanggul goni menjadi daya tarik struktur narasi cerpen. Kali ini absurditas tokoh menyentuh sisi spiritualitas, bahkan religiusitas. Ia tak lagi menciptakan tokoh-tokoh agnostik yang liar. Spiritualitas menjadi motif yang dimanfaatkan Budi Darma untuk mengembangkan kisah yang diakhiri dengan teka-teki, siapakah tokoh lelaki pemanggul goni: malaikat pencabut nyawa, Nabi Kidir, atau jelmaan setan?

Cerpen “Laki-Laki Pemanggul Goni” ini menyentuh pertanggungjawaban akan religiusitas manusia yang berhadapan dengan kematian. Absurditas tokoh bermuara pada moral, adab, dan tabiat manusia, sesuatu yang jauh bergeser dibandingkan saat ia menciptakan novel Olenka dan kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington. Ia  melakukan solilokui dengan ibadah dan maut. 

                                                ***

Dalam esai Taufiq Ismail yang dipublikasikan Horison edisi 55 tahun disebutkan bahwa Budi Darma, sebagai sastrawan Indonesia terkemuka,  mengukuhkan namanya melalui majalah sastra ini. Budi Darma belum tertarik menulis di surat kabar. Dalam ulasan terhadap kumpulan cerpen pilihan Kompas 1994, Lampor, ia menyatakan, “...setiap hari saya membaca harian Kompas. Namun, boleh dibilang saya tidak pernah membaca cerpen dalam harian itu. Mengapa?  Pertama, karena saya kurang suka membaca sastra, termasuk cerpen, dalam keadaan kurang tenang. Kedua, karena berhadapan dengan harian, saya lebih tertarik untuk mengikuti berita, feature, dan artikel”.

Ketika Budi Darma memutuskan untuk menulis cerpen di koran, terjadilah pergeseran besar pada teks sastra yang diciptakannya. Beberapa kritikus sastra menyesali pergeseran obsesi pada dunia metafisika, dengan berkelebatnya pikiran, solilokui dalam novel Olenka dan kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington ke dalam cerpen-cerpen koran yang bergelimang pergulatan jasmani dan sosial. Tentu saja pergeseran penciptaan ini tak terhindarkan karena ekspresi media massa yang dipilihnya dan perkembangan penciptaan seseorang. Akan tetapi, sesungguhnya, satu hal yang tak pernah bergeser dari penciptaannya adalah absurditas tokoh yang menjadi motif dan menggerakkan struktur narasi teks sastranya. Bahkan, absurditas yang kelam dan busuk selalu menjadi obsesinya, termasuk cerpen terakhirnya di Kompas, 4 Juli 2021, “Kematian Seorang Pelukis”.

Budi Darma dikagumi kritikus, sastrawan, dan masyarakat karena ia setia bergulat mencipta teks sastra sampai akhir hayat. Dalam realitas keseharian, ia seorang sastrawan besar yang menjaga kesantunan kepada siapa pun dan kita merasa sangat kehilangan.

                                                       ***

*) S. Prasetyo Utomo lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Seorang doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes. Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa seperti Horison, Kompas, Suara Pembaruan, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Bisnis Indonesia, Nova, Seputar Indonesia,  Suara Karya,  Majalah Noor, Majalah Esquire, Basabaasi.

            Ia menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

 

Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Senin, 20 September 2021