Cerpen

Aku pun Mengerti, Mengapa Rumah Ini Selalu Sepi

Halim Bahriz
Rahim Jamal | Selasa, 23 Februari 2021

Halim Bahriz

Ada ketukan. Hanya ketukan. Tidak keras. Tanpa kata-kata. Seseorang yang sudah tak punya tenaga, atau mungkin bisu, sepertinya sedang butuh pertolongan. Aku bisa merasakan, meski cuma lirih, ketukan itu terdengar mendesak agar pintu segera dibuka.
 
Alih-alih tergerak membukakan pintu, sekujur tubuhku, justru makin cekatan melakukan hal-hal yang tak diperlukan. Semisal memelankan napas, menunda adegan menggaruk gatal, atau berhenti membaca dan meletakkan buku dengan perlahan, untuk sekadar memastikan tak ada suara apa pun yang terdengar sampai ke luar.
 
Dia melakukannya berulang-ulang, dalam tempo yang teratur, pula jeda yang terjaga, timbul tenggelam. Tak selazimnya gelagat seorang tamu, ia menebar semacam horor, apalagi ketukan tersebut adalah sesuatu yang telah lama tak ada. Namun, tiba-tiba terjadi lagi.
 
Aku teringat taktik begal, yang pura-pura kehabisan bensin atau mengalami ban bocor, untuk mengelabui para pengendara di jalan-jalan yang telah sepi. Paranoia ini tentu saja disebabkan oleh situasi harian rumah kami yang juga sama, sepi, yang pada saat-saat tertentu membuatku merasa telah serupa hantu.
 
Setidaknya dalam 2--3 tahun belakangan, meski sesekali masih kusaksikan serombongan keluarga melintas atau berkunjung ke rumah tetangga, tak seorang pun datang bersambang ke kediaman kami―kecuali satu-dua orang yang tersesat mencari-cari alamat.
 
Aku tinggal berdua dengan nenekku, tentu sudah tua. Namun, ia belum pikun. Kemampuannya mengingat atau menceritakan detail suatu peristiwa selalu membuatku kagum meskipun juga tak jarang justru membuatku sedih. Aku merasa tenaganya sudah jauh menipis untuk ingatan yang terlalu banyak dan berat.
 
Sebelum terdengar ketukan pintu yang aneh itu, nenek berbagi cerita tentang sebuah tanaman dengan bunga-bunga yang tak pernah mekar, kecuali ada seorang yang menangis di dekatnya. Aku senang ada tanaman lucu semacam itu. “Tapi,” sergahnya. “Dia tidak berniat menghibur. Dia memang punya cara berduka yang indah. Jika bunganya dipetik dan kamu taruh di bawah bantal, sosok yang membuatmu terluka akan memimpikanmu dalam tidurnya.”
 
Aku menggodanya, “Memang apa gunanya mengulang perjumpaan dengan seorang yang telah menyakiti kita?” Dengan segera ia menepis, “Tidak gitu, Nang. Kamu harus tahu jika perasaan orang baik itu hanya mungkin terluka dan dilukai oleh orang yang disayanginya.”
 
Nenek tak pernah menceritakan peristiwa-peristiwa bahagia. Apa pun yang hampir setiap hari dikisahkannya, sebenarnya cuma kedok untuk keluhan terselubung. Namun, seingatku, ia sangat jarang mengulang-ulang keluhan yang sama, kecuali perkataan ini: “Rumah kita sudah menjadi tempat berpulang yang tidak diinginkan lagi.” Setelahnya cerita pun berhenti. Lalu, dengan langkah tertatih, ia beranjak menuju ranjang.
 
Salah satu ceritanya yang paling membekas adalah tentang seorang laki-laki yang mengetuk pintu pada tengah malam. “Ia masih muda, sorot matanya selalu terlihat berduka dan menunggu meskipun ia tahu tak ada sesiapa yang akan datang kepadanya,” ujar nenek suatu ketika.
 
Ketika aku tanyakan mengapa pemuda itu tidak membawa kunci atau apakah memang dia tak punya rencana pulang terlambat, kata nenek, “Bukan pulang, bukan. Dia cari seseorang yang mau membukakan pintu. Namun, ketika pintu telah terbuka, dia akan jadi tuan rumah dan tuan rumah yang sebenarnya seketika akan menggantikannya, mengetuk-ngetuk setiap pintu pada tengah malam dari satu rumah ke rumah lainnya.”
 
Sialnya, saat seseorang yang tidak terbayangkan siapa itu, mengetuk pintu rumah kami, nenek sudah tertidur pulas. Sialnya lagi, ketika ketukan itu berbunyi untuk kesekian kali, nenek tiba-tiba mengigau, “Tidak apa-apa. Buka saja. Dia seorang perempuan.”
 
Sembari menunggu pagi, aku ingin tak percaya dan menolak instruksi nenek, tetapi setiap kali ketukan itu terdengar lagi, ia pun mengigau kembali dengan perkataan yang sama. Aku takut, bingung, dan akhirnya, merasa tidak punya pilihan selain menurut pada sebuah perintah yang sesungguhnya belum mencukupkan dirinya dengan alasan yang membuatnya layak mendapat kehendak kepatuhan.
 
Dengan langkah agak mengendap, aku mendekat ke arah pintu. Genggam pada gagang logam terasa sangat dingin. Untuk sesaat, kupalingkan wajah ke dalam, menyisir garis-garis dinding dan seisi rumah dengan perlahan, seakan-akan memandanginya untuk terakhir kali.
 
Kemudian, igauan nenek terdengar lagi, mendesak agar pintu segera aku buka. Seraya berdoa, pula menahan helaan―dengan jemari yang gemetar dan keraguan yang masih utuh―kulepas kait grendel, memutar kunci, lalu mengokang gagang pintu. Nenek tak meleset. Yang berdiri di hadapanku memang sosok perempuan.
 
Aku mengenalinya. Dengan rambut pirang dan terurai sampai pinggang, ruas-ruas leher yang meminang lekuk landai lembah, sepasang mata yang tampak serupa telaga, pula pakaian yang penuh renda―membuatku yakin tidak keliru, dia memang mirip ibuku, lebih tepatnya, nenek (dalam sebingkai potret) pada masa remajanya.
 
Sebab itulah, ketika dia mengulurkan telapak tangan, aku segera menggenggamnya. Kami pun mulai memapah lampah. Namun, hanya tertaut sekian jarak, aku teringat nenek yang masih tidur. Serentak kupalingkan wajah dan betapa terkejutnya ketika yang kusaksikan bukan sebuah rumah, melainkan bangkai kapal yang telah dipenuhi kunang-kunang.
 
Aku menangis dan ingin kembali, tetapi langkah kakiku terus saja menapak ke depan. Aku berontak dan tepat saat kukoyak genggaman, aku baru sadar sudah tak ada siapa-siapa di sampingku. Satu-satunya hal yang mungkin kulakukan adalah berjalan, mengetuk pintu demi pintu, dan menimang harap dari satu teras ke teras lainnya.
 
Hari-hari belaka malam. Aku tak pernah menyaksikan pagi atau matahari. “Mimpi, ini hanya mimpi,” gumamku. Namun, aku tak tahu bagaimana cara agar terjaga. Pintu demi pintu cumalah tembok yang terbuat dari kayu. Tidak sebuah rumah pun membukakan dirinya untukku.
 
Namun, saat harapan mulai sekarat, kudengar derit pintu yang terbuka dengan sangat perlahan dalam pemandangan yang seluruhnya hanya gelap. Aku tidak yakin ke mana mesti mendekat, tapi ratusan kunang-kunang kemudian datang dan membimbingku ke suatu arah sampai dapat aku lihat sebuah rumah dengan pintunya yang telah terbuka.
 
Sebelum memasukinya, aku merasa mengenal rumah itu meskipun tetap terasa asing karena tampak tak terawat dan ditumbuhi rumput liar setinggi ilalang di sana-sini. Ratusan kunang-kunang masih menunggu di tengah pintu. Lalu, berhamburan keluar ketika aku telah berdiri di tepi ruang tamu.
 
Aku melihat foto-foto ibu, ayah, dan kakak-kakakku terpasang di dinding, juga kakek-nenek semasa muda. Perasaan berdebar tak mau pudar. Aku melangkah ke kamar nenek, membuka pintu kamar dengan hati-hati. Rupanya nenek masih tidur. Aku menutupnya lagi, juga dengan hati-hati. Lalu, beranjak ke kamarku. 
 
Aku menyaksikan ayah-ibu tertidur dan di antara keduanya terbaring seorang bayi. Aku dapat mengenalinya. Bayi itu adalah diriku sendiri. Seketika mataku berderai tangis dan karena tak tahan dengan apa yang juga dalam seketika aku mengerti, aku berlari keluar untuk menangis sekeras-kerasnya.
 
Kunang-kunang itu datang lagi. berkerumun di sekitarku, seakan ingin menghibur sekaligus memberi tahu bahwa rumah di balik punggungku telah menjadi bangkai kapal. Aku tak mau mencari pintu lagi. Aku ingin tinggal di kapal itu. Akan tetapi, ratusan kunang-kunang tak juga henti menggoda agar aku terus memapah lampah
 
Aku tak tahan dan akhirnya merasa tidak punya pilihan selain menurut pada sebuah rayuan yang sebenarnya belum menggenapkan dirinya dengan satu-dua kelugasan yang membuatnya bisa dipahami dan pantas mendapatkan kehendak persetujuan. Aku pun kembali berjalan dan kunang-kunang itu senantiasa menuntun ke mana aku mesti bertentu arah.
 
Tanpa betul-betul sadar, seberapa panjang kami berjalan, pula berapa banyak rumah yang sudah kuketuk pintunya―aku merasa telah setua nenek dan tidak ada sebuah rumah pun yang membukakan dirinya untuk kami. Namun, aneh sekali, waktu tidak pernah terasa lama, masa lalu tidak pernah terasa jauh.
 
Dengan sekujur kulit dilumuti keriput dan kepala yang telah seutuhnya botak, diam-diam aku masih merindukan rumah. Aku memikirkannya, kenapa aku jadi jompo yang meratapi nasib buruk tanpa rumah yang dapat ditinggali, membuat kesedihan dan amarah tidak bisa dibedakan lagi. Kemarahan menyusui kesedihan dan kesedihan menenggelamkan kemarahan. Mataku seperti hanyut dalam tangisnya sendiri.
 
Aku merasa capai, sangat capai. Aku ingin mati, tapi aku merasa sudah mati. Sungguh ngeri andai benar aku sudah meninggal dunia dan masih bisa diusik perasaan-perasan tak terpahami dalam kematian yang hanya sekali dan tidak bisa ke mana-mana lagi. Lantas, dengan cara apa penderitaan yang tak sanggup kutanggung lebih lama lagi ini bisa berakhir?
 
Aku berteriak dan ratusan kunang-kunang yang terus mengitariku, seketika berjatuhan. Sepi, pelan-pelan mengunyah segalanya. Lalu, aku mengantuk, sangat mengantuk. Aku mendekati sebuah rumah dan tanpa ingin mengetuk pintunya, kurebahkan tubuh di teras dan mulai tidur. Dingin, sangat dingin. Angin mengantar harum dahan, kecut rumput, sesekali juga semerbak kamboja.
 
Belum juga nyenyak, aku merasa ada seseorang menggoyang-goyang kakiku. “Sudah hampir subuh. Bangun, Nang. bangun,” ujarnya. Ternyata nenek. Aku senang sekali. Namun, setelah membasuh muka, rasa lega itu berhenti sebab terdengar lagi ketukan, tak keras, dalam tempo yang teratur dan jeda yang terjaga. Peristiwa itu mengulang horor dan introduksi mimpi.
 
Nenek memintaku membuka pintu, tapi dengan sigap aku menolak. Nenek tak memaksa dan segera berjalan sendiri ke pintu depan. Lalu, ia memanggilku, “Nang, sini! Ada ayah dan ibu.” Aku pun berlari. Benar, memang ayah-ibulah yang datang bersambang. Usai berkata-kata dalam bahasa yang tidak bisa aku pahami, mereka menabur kembang, pula rajang pandan, ke wajah kami―dan kemudian pergi. Aku pun jadi mengerti mengapa rumah ini selalu sepi.


Halim Bahriz lahir dan tinggal di Lumajang, Jawa Timur. Dua naskah teaternya mendapatkan Rawayan Awards 2017 oleh Dewan Kesenian Jakarta, memenangi (kategori umum) sayembara penulisan The 4th Asean Literary Festival dan Lomba Esai Seni Rupa Kemendikbud 2019. Penulis juga mengikuti program Residensi Penulis Indonesia yang diadakan oleh Komite Buku Nasional. Debut buku puisinya: Igauan Seismograf—yang terbit pada penghujung tahun 2018—masuk longlist Kusala Sastra Khatulistiwa. Kolektor Mitos (2016) adalah kumpulan cerita pendek pertamanya.


Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Selasa, 23 Februari 2021