Artikel

Berbahasa dengan Riang Gembira

Sam Edy Yuswanto
Rahim Jamal | Senin, 19 April 2021

Sam Edy Yuswanto

Sebagai orang Indonesia, kita harus berusaha menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, terutama ketika sedang membuat karya tulis yang akan dipublikasikan di blog, dikirim ke berbagai media massa, maupun karya yang akan diterbitkan dalam bentuk buku. Kenyataan yang ada selama ini, masih banyak dijumpai kesalahan oleh sebagian penulis (termasuk saya) dalam menggunakan bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah yang ada. Inilah yang menjadi alasan, mengapa kita harus terus berupaya untuk belajar berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.  
 
Menurut Dr. Felicia N. Utorodewo (mentarigroups.com, 13/08/2020), berbahasa Indonesia yang benar berarti harus menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah atau aturan bahasa Indonesia. Kaidah yang dimaksud, meliputi kaidah tata bahasa, kaidah ejaan, dan kaidah pembentukan istilah. Kaidah tata bahasa dan kaidah pembentukan istilah berkaitan dengan bahasa Indonesia lisan dan tulis. Penggunaan bahasa yang tidak memperhatikan kaidah tata bahasa akan membingungkan. Misalnya, kesalahan tata bahasa dalam kalimat, “Karena sering kebanjiran, gubernur melarang pembangunan gedung di sana”. Apakah “gubernur” yang sering kebanjiran atau “suatu daerah”?  Kesalahan seperti ini sering terjadi dalam kalimat majemuk. Kaidah ketatabahasaannya adalah “Dalam kalimat majemuk bertingkat, subjek dalam anak kalimat dapat dihilangkan jika induk kalimat dan anak kalimat mengandung subjek yang sama.” Dalam kalimat tersebut, subjek pada induk kalimat tidak sama dengan subjek pada anak kalimat. Oleh karena itu, subjek pada anak kalimat wajib hadir.

Butuh Ketelitian
Memang harus saya akui, butuh ketelitian jika kita ingin berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai dengan tata bahasa dan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), terlebih ketika sedang membuat artikel yang akan ditujukan ke media massa. Saya dituntut untuk benar-benar meneliti dan melakukan pengeditan yang maksimal agar artikel yang saya buat tersebut benar-benar enak dibaca, mudah dipahami seluruh pembaca, sesuai dengan tata bahasa, dan tidak ada typo atau kesalahan penulisan kata-kata. 
 
Rasanya sulit (untuk tidak mengatakan mustahil) bila sebuah tulisan bisa benar-benar terbebas alias bersih tanpa kesalahan penulisan. Namun, paling tidak kita bisa meminimalisasi kesalahan tersebut dengan cara membaca ulang secara jeli beberapa kali. Bahkan, kalau perlu, kita bisa meminta bantuan teman (sesama penulis) untuk membaca artikel tersebut. Siapa tahu masih ada kekurangan atau hal-hal lain yang perlu dibenahi. Orang lain (pembaca) terkadang menemukan kekurangan atau kesalahan penulisan kata-kata dalam artikel kita meskipun sebelumnya kita sudah merasa sangat yakin artikel yang kita tulis sudah benar dan bebas dari typo.

Terus Menulis sambil Terus Belajar
Seorang penulis, terutama bagi pemula atau yang baru belajar menulis, sebaiknya teruslah menulis dan juga perbanyak membaca. Jangan terlalu memedulikan tulisan yang dibuat nanti akan jadi seperti apa; apakah baik atau buruk? Yang penting, teruslah mengasah diri untuk menulis seraya tak henti mempelajari kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Bila kita hanya terfokus pada belajar tata bahasa Indonesia (yang tidak mudah dan kadang membingungkan), kita bisa berhenti menulis karena takut salah atau merasa putus asa ketika tak mampu merangkai kata-kata dengan baik dan benar.
 
Menurut saya, ada sebuah cara yang mudah untuk belajar menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, yakni dengan sering membaca media massa nasional, seperti Kompas, Republika, dan Jawa Pos. Mengapa harus media massa nasional? Ya, karena selama ini, saya perhatikan media-media massa nasional cukup teliti dalam penggunaan bahasa dan juga minim dari kesalahan. Andai terjadi typo, paling hanya sedikit. Berbeda dengan sebagian media massa lokal (daerah) yang di dalamnya masih banyak dijumpai kesalahan dalam penulisan kata-kata, bahkan kadang masih terdapat kalimat yang tidak efektif.
 
Dengan banyak membaca tulisan di berbagai media massa nasional, kita bisa belajar banyak perihal cara menggunakan bahasa yang teratur, efektif, dan porsi yang pas (tidak bertele-tele). Wawasan perbendaharaan kata kita juga akan semakin bertambah. Hal itu sangat jauh berbeda bila kita (hanya) belajar pada buku materi bahasa Indonesia yang monoton dan kadang memusingkan karena di sana hanya menjelaskan kaidah-kaidah tanpa memberikan contoh secara luas dan memuaskan.
 
Menurut saya, kesalahan dalam berbahasa kerap terjadi di kalangan masyarakat umum dan juga sebagian penulis karena keengganan mereka untuk belajar. Mereka enggan meluangkan waktu untuk membaca beragam jenis buku, majalah, media massa (cetak maupun daring). Padahal, di era serba internet seperti sekarang ini, kita bisa belajar melalui Google. Jika kita masih ragu terhadap sebuah kata, misalnya cara menuliskannya, kita bisa menelusuri kata-kata tersebut di internet. Misalnya, ketika kita masih ragu dalam penulisan kata sekadar, apakah penulisan yang benar itu sekadar atau sekedar? Selama ini, orang kerap salah dalam menuliskan kata sekadar. Banyak orang yang menuliskannya dengan sekedar. Terkait dengan hal ini, kita bisa langsung bertanya (mencari tahu) dengan cara mengetik kata tersebut melalui Google. Di sana akan kita temukan keterangannya.  
 
Kata-kata lain yang rentan salah ketika menuliskannya, antara lain, pecinta dan pencinta. Kata pecinta berarti ‘orang yang bercinta’, sedangkan kata pencinta berarti ‘orang yang sangat suka akan’. Namun, masih banyak orang yang keliru dalam memilih kedua kata itu. Kadang informasi yang ingin disampaikan sebanarnya adalah terkait dengan pencinta, tetapi yang dituliskan adalah pecinta. Selanjutnya, kata frustasi (yang tepat frustrasi), apotik (yang tepat apotek), dan lain-lain. Oh, ya, ada juga satu kata yang menurut saya kerap keliru menuliskannya. Biasanya kata-kata tersebut saya temukan ketika sedang berkendara di jalan raya. Di sebuah bangunan, misalnya ruko, terpampang tulisan singkat dengan huruf kapital: DIKONTRAKAN. Kata tersebut, selain keliru penulisannya, juga salah kaprah maknanya. “Dikontrakan” berarti “di dalam kontrakan” (meskipun kata ‘di’ harusnya dipisah dengan kata yang mengikutinya, tidak dirangkai). Bila tujuan kita ingin menyewakan ruko atau rumah tersebut, penulisan yang benar adalah DIKONTRAKKAN (dengan menambahkan huruf “K”). Kita juga bisa cari padanan kata yang lebih enak dibaca dan enak dituliskan, misalnya “Disewakan”. Bila ingin memberikan informasi yang lebih lengkap, kita bisa menuliskan, “Rumah Ini Disewakan”. 
 
Tulisan singkat dan sederhana ini mudah-mudahan dapat menjadi pengingat bagi para pembaca (khususnya saya) agar selalu berusaha berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Mari belajar berbahasa dengan riang gembira.
 
***
 
Sam Edy Yuswanto, penulis lepas tinggal di Kebumen. Alumnus STAINU, Fak. Tarbiyah, Kebumen. Tulisannya (opini, resensi buku, cerpen, dll.) telah dimuat di berbagai media, baik media lokal maupun nasional, antara lain, Koran Sindo, Jawa Pos, Republika, Kompas Anak, Jateng Pos, Radar Banyumas, Merapi, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, dll.
 
 
Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Senin, 19 April 2021