Artikel

Berkurban untuk Literasi Tulis

I Made Ngurah Rai Febrianto | Senin, 06 September 2021

Berkurban tidak hanya monopoli kalangan berkelas. Jika orang-orang  sudah mapan secara ekonomi mampu mengurbankan seekor kambing untuk panitia hari kurban atau iuran tujuh orang untuk membeli satu ekor sapi, tidak demikian halnya dengan penulis/pengarang yang masih akrab dengan keterbatasan ekonomi. Bisa jadi mereka belum mampu menunjukkan keterlibatan peniuh semacam itu. Tentu, tidak perlu disikapi dengan rasa minder atas ketidakmampuan tersebut. Berkurban tidak harus diwujudkan dalam bentuk hewan semata, tetapi banyak cara lain yang layak ditempuh. Pisau kreativitas harus diasah untuk menembus batas. Adanya konvensi tahapan kemampuan berbahasa yang menyangkut kemampaun menyimak, wicara, membaca, dan menulis merupakan lahan subur yang menantang kita untuk menyikapinya secara bermartabat.

Berkorban Secara Moral dan Intelektual

Lajunya perkembangan dunia tulis-menulis tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan honorarium. Fenomena yang terjadi–tidak terhindarkan–dewasa ini banyak media yang memberi honorarium lebih rendah dari biasanya. Konsekuensinya, mental “bantingan” penulis dalam konteks ini perlu mendapat imunisasi yang kuat. Pengalaman saya sebagai penulis–menulis satu cerkak (cerita pendek berbahasa Jawa)–dihargai oleh sebuah media yang dikelola sebuah instansi, sebanyak hampir empat ratus ribu rupiah. Dua-tiga tahun kemudian, ketika lembaga tersebut akan membuat kumpulan cerkak, saya tentu saja bergegas menyambutnya. Pengalaman menunjukkan, honorarium tulisan pesanan biasanya lebih tinggi nominalnya daripada honorarium tulisan yang bukan pesanan. Ironisnya, beberapa hari kemudian saya menerima transfer sebanyak Rp136.000,00–setelah dipotong pajak dan ongkos pentransferan. Penulis lain, yang juga pernah menulis esai di rubrik ini beberapa  waktu, sempat  berkabar  bahwa honorarium tulisannya yang terbit di koran ibukota juga mengalami honorarium terjun bebas. Jika semula dia mengaku mendapatkan sekitar Rp900 ribu satu artikel, kini hanya menerima Rp480 ribu untuk tulisan pada rubrik yang sama.

Dalam sejarah perhonoran, baru tahun-tahun belakangan ini persoalan honorarium mengalami kemerosotan. Berbeda dengan puluhan tahun sebelumnya, dari menerima honor sebuah puisi di media yang nominalnya mulai Rp 500,00,  tiga tahun silam, satu geguritan (puisi bermedium bahasa Jawa) saya mampu mendapatkan apresiasi hadiah Rp6 juta. Sungguh fantastis. Bandingkan dengan beragam lomba yang bertebaran dan bersliweran  di medsos sekarang, terkesan berspekulasi dengan kalkuasi hitung rugi. Lomba menulis dengan syarat ribet (disuruh menyiarkan/mengiklankan) lewat instagram, hingga membayar uang pendaftaran. Hadiah yang diiming-imingkan pun membuat dunia kepenulisan harus sakit hati karena hanya seratus ribu rupiah!

Para penulis yang hanya mengandalkan hidup dari bergelut dengan tulisan saban harinya agaknya perlu berpikir keras bagaimana upaya menyambung hidup jika honorarium mengalami kemerosotan nominal terjadi di hampir semua media. Pekerjaan sambilan lain rasanya juga harus digalakkan.  Namun, di sisi lain, tidak sedikit penulis muda yang sudah mulai menyiapkan mental secara matang. Dengan gaya berkelakar, ketika saya bergurau tentang terjadinya penurunan honor, dia malah bilang, “Kalau harus nunggu honorararium, terus menulisnya kapan, Mas?”

            Pengembangan berpikir, pengeksplorasian wawasan, dan penajaman daya kritis pembaca yang terus-menerus merupakan tawaran menarik bagi para penulis untuk mengamukkan kreativitas di sini. Pada saatnya pembaca–dalam tataran kritis–tidak hanya sekadar menerima gagasan penulis saja. Segmentasi pembaca yang kritis, entah sadar atau tidak, pada gilirannya akan merekonstruksi pemikiran penulis untuk menjanjikan tulisan-tulisan terbaiknya. Analoginya, jika segmentasi pembacanya kalangan sarjana/berkelas sarjana, tentu jajaran redaktur dan penulis akan meyajikan gagasan yang tepat sasaran.

            Kontribusi realistis–dalam konteks kemampuan berbahasa–yang menyangkut kemampuan; menyimak, wicara, membaca dan penulis bisa direntang secara gamblang. Beragam siaran yang berbobot dari media radio, televisi, koran, tabloid, majalah, dan jurnal telah menempatkan pembaca sebagai penyimak yang dimanja. Tinggal memilih tema yang disodorkan masing-masing media relevan dengan kebutuhannya..      

            Begitu juga tataran wicara, media radio dan televisi juga memberi peluang bagi  pendengar/pemirsa untuk bersikap kritis. Persoalan lokal atau nasional, yang bersifat personal maupun komunal juga menyemaikan daya kritis masyarakat. Mereka diberi hak untuk terlibat melakukan aktivitas berbicara. Mengkritisi secara argumentatif dan memberikan kesempatan kepada penikmat yang lain untuk memberi tanggapan sehingga diskusi menjadi lebih memiliki bobot. Tentu kita maklum, orang berani bicara di hadapan publik pastilah tidak sekadar berbicara. Mereka harus memiliki modal berbicara yang digali dari kegiatan membaca. Di wilayah inilah kembali, kita disadarkan bahwa kemampuan berbahasa itu saling berkait.

            Tak kalah menarik aktivitas membaca yang disulut oleh banyak pihak, telah memicu banyak kalangan mulai menerima bacaan. Bahkan seiring dengan perjalanan waktu, membaca akan menguat menjadi kebutuhan. Di media massa, baik cetak maupun elektronik, sering kita cermati adanya sajian menarik. Betapa banyak kalangan yang rela berkorban demi pencerdasan bangsa, utamanya untuk kalangan generasi muda. Ada yang mengusung perpustakaan dengan bantuan keranjang di punggung kuda, menyatu dengan barang dagangan mainan hingga sambil jualan jamu, membiarkan lapak jualan majalah dan buku-buku dagangannya rela dirubung/dibaca berjam-jam para pelajar/mahasiswa, hingga perpustakaan gratis. Persoalan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, lingkungan hidup, sampai yang gencar diperbincangkan secara aktual adalah info kesehatan. 

            Merenungi konstribusi yang gencar dilakukan untuk mengentaskan keterbatasan bangsa melalui jalur menyimak, wicara, dan membaca, tidak ada salahnya para penulis juga memiliki gereget menyumbang tulisan. Di samping tulisan untuk lahan mencari popularitas dan tambahan pemasukan perkapita–atau malah mungkin menjadi ladang kehidupan–perlu juga sebagian “dikurbankan” untuk konsumsi publik. Kita sadar ada media yang sudah mampu memberi honor memadai, ada pula yang baru tertatih-tatih belajar berjalan dan jujur belum mampu memberi imbalan honorarium. Kondisi semacam ini perlu disikapi secara simpatik. Kita pantas merespon daya juang orang-orang yang jujur. Jika kita memiliki kemampuan, mengapa tidak bergerak melakukan?

Sebaliknya, kita juga pantas berpikir ulang manakala ada sebuah media yang iklannya berjibun, tetapi menggaji wartawan pun terpaksa tersendat-sendat–apalagi membayar penulis yang notabene penyumbang naskah lepas. Jika kontribusi tulisan diniati dengan baik/rela, yakinlah, kita akan mendapatkan imbalan dalam bentuk lain. Terlebih penulis yang mungkin nyambi menjadi tukang ojek, buka toko kelontong, dan siapa tahu lahan kerjanya di luar tugas kreatif akan lancar, berkembang, dan menyumbangkan keuntungan yang jauh lebih menggiurkan daripada honor menulis. Sayang, belum banyak penulis yang memiliki pemikiran sampai di sini.

Melengkapi harapan ini, perlu ditegaskan bahwa jangkauan sasaran satu tulisan, terlebih di musim menjamurnya media online, tentu akan  bisa menjangkau banyak pihak daripada disiarkan secara terbatas. Pemublikasian di ruang kelas atau di ruang sarasehan/seminar rasanya masih kalah secara kuantitas–syukur kualitas–dibanding dengan jangkauan kalau tulisan tersebut dipublikasikan media cetak/online. Teman-teman kita di luar kota, luar pulau dapat memetik hasil pikiran kita sehingga pahala kita lewat ibadah menulis akan bertambah. Ada interaksi dialogis yang terus tumbuh. Jika semangat memberi konstribusi tulisan baik fiksi maupun nonfiksi terus melaju kencang, utamanya pada upaya peningkatan literasi tulis akan terus berkembang.   

Menyadari betapa pentingnya merawat literasi di negeri ini, ada baiknya para penulis yang rela mengorbankan baktinya, mengacu pada kepemilikan niat yang luhur. Kata ini rasanya memiliki reputasi yang agung, serius, dan tidak terkesan main-main, tetapi tetap memiliki luapan energi yang prospektif.

******


Budi Wahyono

Penulis merupakan lulusan Magister Fisip Universitas Diponegoro. Menulis esai, cerpen, puisi, kolom, novelet, dan fiksi bahasa Jawa. Tulisannya tersebar di Horison, Asri, Kompas, Jakarta Post, Bisnis Indonesia, Solo Pos, Suara Merdeka, Wawasan, Kedaulatan Rakyat, dll. 

 

Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Senin, 6 September 2021