Cerpen

Cerpen Gandi Sugandi

I Made Ngurah Rai Febrianto | Senin, 06 September 2021

Sumiati

Oleh:  Gandi Sugandi

 

     Satu-satunya tanaman monstera variegata di pot kecil, di antara pot-pot besar—yang disimpan sementara di halaman rumah—diambil orang. Mengingat harganya yang mahal, tentulah aku dan istri berang bercampur kesal. 

     Kata teman, dulu cukup banyak tanaman monstera yang tumbuh di satu lereng bukit itu. Maka pagi ini, dengan dibekali air serta makanan secukupnya oleh istri, aku pun bersiap berangkat.

     **

     Hari cukup panas dan gerah, musim sedang kemarau. 

     Setelah sudah cukup jauh menapaki jalan setapak sepi yang tanahnya retak-retak, juga banyak ruasnya yang belah-belah, wajah, pun punggungku, menjadi basah berkeringat. Saat di depan mata melihat rimbunan bambu, aku memutuskan mengaso, duduk di bawahnya. 

     Setelah lelah dirasa telah hilang, melangkah pun diteruskan. Kini, di sepanjang kiri kanan tampak pohon-pohon khas setempat berjejer berdiri—milik penduduk. Mataku selalu melarak-lirik, mencari-cari di sela-sela pangkal-pangkal batang pohon, barangkali ada monstera yang nyempil. Tapi, sedari tadi belum satu pun ditemukan.

     Saat tiba di satu pertigaan jalan setapak, tampak berdiri satu pohon jati yang belum tinggi. Di antara pangkal batangnya, terlihat rumpunan-rumpunan tetumbuhan. Aku pun berhenti kembali untuk memperhatikan hendak memastikan, apakah ada salah satunya tanaman monstera? Setelah ditelisik, ternyata gulma-gulma. Aku cukup kecewa. Aku terus melangkah.    

     Di bawah pohon jati yang lain, aku kembali mengaso, duduk di sejumput rumput kering. Di belakang, ilalang meranggas. Di depan, tampak setumpuk dedaunan kering bercampur beberapa potong ranting. Ketika melihat ke samping kiri kanan, terlihat pepohonan lain, ternyata juga merana. Ah, andai saja ada angin bertiup cukup kencang, kiranya dedaunan dapat luruh melayang.

     Siang pun makin tinggi, udara makin panas, membuatku semakin gerah. Wajah dan punggung kembali basah berkeringat. Aku membuka tas, mengambil sebotol minuman berisi air putih. Minum, hingga hilanglah dahaga. Aku pun ingin merokok, segera merogoh ke saku celana. Tetapi saat mencari korek gas, tak ada, mungkin tadi telah terjatuh.

     Lalu selintas lalu, kuingat pesan teman, saat matahari di atas kepala, biasanya ada orang kampung penduduk bukit itu yang lewat di jalan ini, yang baru pulang berbelanja dari pasar kecamatan. Ya benarlah, di bawah, di dekat pohon kiara berbatang putih tinggi menjulang, tampak seorang lelaki yang sebaya denganku sedang berjalan kelelahan. Satu tanggungan di pundaknya terlihat berbeban berat. 

      Saat dia tiba di depanku, aku menyapa sekalian mengajak. “Berhentilah dahulu Kang. Melepas lelah sejenak.” 

     Akang ini tersenyum, menurunkan tanggungannya. 

     Aku bertanya, “Pulang dari pasar?”

     “Iya, ini kan hari Sabtu, salah satu hari pasar. Aku biasa berbelanja untuk kebutuhan seminggu. Ya, untuk persediaan, kan jarak dari kampungku untuk ke kota kecamatan bila berjalan kaki santai lewat jalan setapak ini bisa mencapai hampir 2 jam.”

     “Lumayan juga, ya, Kang.”

     “Iya.”

     “Itu Kang, kalau ada, mau pinjam korek gas.” 

     Tangan Akang gegas tergesa merogoh ke saku celana sebelah kanannya, lalu mengasongkan korek gas. Sebagai etika, sebelum menyalakan, aku pun menyodorkan sebatang rokok yang telah menjulur dari bungkusnya. Dia sempat ragu. Pada tawaran ketigalah, dengan wajah berseri, dicomotnya sebatang.

     Kali ini dia yang bertanya, “Mau ke mana gerangan?”                

     “Aku sedang mencari tanaman monstera.”

     Dia tersenyum. “Ya, tanaman itu mahal harganya. Sekarang di bukit ini pun sudah jarang.”      

     Tiba-tiba Akang itu berkata, “Kalau ingin mendapatkannya, harus musim hujan mencarinya.” 

     Kami lalu hanyut pada obrolan, tentang monstera yang pernah dia lihat di hutan itu. Dia bertanya pula tentangku. Aku menjawab, aku dan istri penggemar monstera. Aku bekerja di satu kantor, dan tinggal di ibu kota provinsi ini di sebelah barat.

     Lalu, kami saling terdiam berdiri. Ah, tepatnya saling memperhatikan dedaunan teramat kering dan ranting-ranting yang terserak di sekitar, di pinggir jalan setapak itu. Bila sekian lama terpapar panas matahari, bisa keluar api. Apalagi bila membuang puntung rokok sembarangan, sangat berbahaya. Saat aku masih bermenung, Akang itu mengagetkanku berkata, “Bagaimana, sudah cukup istirahatnya? Oh iya, di rumahku ada tanaman monstera, tapi tidak tahu monstera jenis apa. Kalau ada waktu, sekarang kita ke sana. Bila perlu, menginap saja.”

     “Aku tak membawa cukup bekal makanan dan pakaian.”

     “Tidak usah risau. Makanan banyak di sana. Pakaian juga bisa dipinjami untuk tidur. Bukankah bisa sekalian mencari suasana baru tinggal di kampung sambil berkeliling hutan? Kapan lagi kan ke sini?”

     Akang itu aku lihat serius mengajak, juga terlihat tanpa pamrih. 

     “Apakah rumah Akang masih jauh?”

      “Ya lumayan, tapi kalau lelah, kan kita beristirahat dahulu.” 

     Aku pun setuju, mesti berarti harus terus naik ke atas, berkeringat lagi menuju puncak bukit.                        

     Saat tiba di rumahnya, rupanya bersahaja, hanya berdinding gedek bambu dengan ruang tengah dan dapur yang tak bersekat. Aku langsung diajaknya menjerang air untuk membuat kopi. Aku menyempatkan bertanya. “Kenapa hanya seorang diri di sini? Istri dan anak-anak di mana?”

     Akang itu menerawang, lalu menggelengkan kepala, tidak mau membahas lebih jauh. Kedua tangannya kemudian mengambil satu per satu kayu-kayu bakar dari pinggir tungku. Saat aku kembali mengulang dengan pertanyaan yang sama, dia pun berkata, “Sudahlah, aku bersedih untuk mengingatnya.”

     Setelah aku meminta maaf, dia pun mulai mengambil korek api—yang selalu tersedia—di pinggir tungku. Daun-daun kelapa kering dan kulit kayu kering dinyalakan. Lalu, kayu-kayu bakar ditaruh bersilang di atasnya. Api menjilatnya. “Lihatlah,” katanya, “Api cepat membesar di musim kemarau karena serat-serat kayu bakar sangat kering.” Dia menunjuk ke kayu-kayu yang menyala.

     “Ya seperti bara api cinta,” aku menyela dengan maksud bercanda. Tetapi, Akang itu hanya diam.

      Tak lama menunggu, air pun bergolak. Dia lalu mengambil kopi yang katanya dia tumbuk sendiri, dituangkannya ke dalam gelas, lalu dikucurinya air panas.                     

     Terasa nikmat minum secangkir kopi. Selain karena di atas bukit—di bawahnya pemandangan tegakan pohon, mungkin karena aku juga sedang lelah. Dia lalu kulihat gegas mengambil beras, menuangkan pada panci, mencucinya. “Kita membuat nasi liwet, ya. Bersama ikan asin sepat, tempe, yang tadi kubeli, sekalian membuat sambal dadakan. Lalapan juga banyak, tinggal melangkah ke belakang rumah.”

     Aku senang dengan keramahannya. Aku mengiyakannya.

      Ikan asin itu disimpannya di dekat bara api. Berkali-kali dibolak-baliknya agar tidak gosong. Lalu, aroma khas ikan asin tercium, mengundang selera yang doyan. Beberapa saat kemudian, nasi pun tanak. Dia mulai menggoreng tempe. Katanya, murah dan menyehatkan. Aku lalu berinisiatif mencari lalapan seperti yang dikatakannya tadi. 

     Saat kembali tiba ke dapurnya, sajian sudah siap. Kami lalu lahap makan, nikmat berkeringat hingga kenyang—meskipun sebenarnya sudah telat makan siang, pada pukul 14.00.

     Tiba-tiba dia berkata, “Hampir kelupaan. Monstera-monstera yang akan kutawarkan padamu.” Dia lalu bangkit, berjalan ke sebelah kiri rumahnya, aku mengikuti langkahnya. Dia bertanya, “Mengapa tidak membeli di penangkar?”

     “Ya, ingin mendapatkan harga yang miring. Sekalian juga refreshing di alam.”

     “Ya benar. Tetapi mengapa kukuh mencari meski sedang kemarau?”   

     “Aku dan istri ingin, di depan rumahku selalu ada monstera variegata, atau monstera jenis lain.”

     Tiba-tiba dia berseru, “Celaka. Aku hampir kelupaan menyiram, semua monsteraku layu. Ah, aku jadi teringat Sumiati, mantan istriku, yang kini bersamanya di kota. Apakah kini keadaannya layu seumpama monstera ini, atau segar bugar.”

     Aku lalu memperhatikan baik-baik monstera-monstera-nya yang ternyata berjenis variegata. Aku lalu berkata, “Masih bisa hidup. Masih ada harapan. Tinggal rutin dipelihara.”

    Akang ini berkata lagi, “Seumur-umur, aku takkan pernah lupa padanya, yang bertahi lalat kecil di dagu kanan dan bahu kanannya.” 

     Aku langsung berusaha tenang, tak boleh gugup agar Akang tidak curiga. Bahwa istriku sendiri bernama Sumiati, dan berciri-ciri sama. Tidak salah lagi.

 *** Bandung, Juli 2021

 

***** 

 

Gandi Sugandi adalah alumnus Sastra Indonesia Unpad tahun 2000.  Mulai tahun 2002, ia bekerja di Perum Perkebuni. Ia mendapatkan penghargaan sebagai karyawan berprestasi pada tahun 2014 dan 2015. 

 

Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Senin, 6 September 2021