Cerpen

Cerpen Komala Sutha

| Selasa, 21 September 2021

Lelaki yang Menabur Mimpi

Oleh : Komala Sutha 

 

          Mata Hartini terbelalak. Nyaris tak percaya apa yang tengah dilihatnya. Bukan main. Seperti mimpi, tapi ini nyata. Sekali lagi, diyakinkan dalam hatinya jika yang tengah dilihatnya sesuatu yang benar. Bukan rekayasa. Dadanya berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Perasaannya pun bercampur aduk. Antara percaya dan tidak percaya. Antara yakin dan ragu. Sedikit senang namun sedikit waswas.

          “Percaya ‘’kan apa yang kubilang?” suara suaminya membuat kesadarannya kembali mencapai titik normal.

          Kepala Hartini mengangguk, senyumnya mulai terulas. Matanya yang tak terbelalak, sedikit dipicingkan. Kembali mengamati apa yang dilihatnya. Sebuah peti tak begitu besar, berbentuk balok, ukuran sekitar 100 cm kali 50 cm dengan ketinggian 40 meter. Isinya penuh dengan lembaran, bukan lembaran lagi namun gepokan uang pecahan tertinggi di negara.

          Hartini masih berdiri di samping suaminya yang tengah tersenyum-senyum senang melihat tanggapan istrinya.

          “Ini uang beneran kan, Mas?” tangan kanan Hartini hampir menyentuh permukaan atas uang-uang tersebut namun Danang -- sang suami -- dengan sigap menahan telapak tangan si istri agar tak berhasil menyentuh lembaran kertas paling berharga itu.

          “Tentu saja, masa uang mainan,” jelas suaminya sembari melirik istrinya yang masih penasaran mahatinggi pada isi peti yang terbuka. “Tapi…kau tak boleh menyentuhnya dulu.”

          “Kenapa?” Hartini tampak sedikit kecewa.

          “Belum saatnya.”

          “Kapan saatnya?” desak Hartini tak sabar.

          “Nanti tiba waktunya. Sabar, sayang…” tangan Danang berpindah pada bahu Hartini. Memeluknya. Dikecupnya kening Hartini.

          “Tapi tidak lama lagi, kan?” Hartini merajuk. Tak sabar. Mengendap dalam benaknya harapan masa depan gemilang. Banyak harta. Mimpi yang akan menjadi kenyataan. Ia sangat ingin menjadi istri yang tak kekurangan materi. Berlimpah. Kaya harta itu sebuah kebanggaan.

          “Tentu saja, asal kau tak melanggar janji,” Danang mempererat pelukannya. Dengan jurus bujuk rayu, Hartini mau diajak ke luar kamar setelah sebelumnya Danang menutup peti. Mereka berdua menuju ke kamar depan. 

          Mereka berdua bisa dibilang pengantin baru. Usia pernikahan belum seumur jagung. Danang dan Hartini saling mengikat janji sehidup semati disahkan dalam perkawinan. Mereka tampak bahagia sejak awal bersama. 

          Dua-duanya bukan pasangan lajang dan perawan — karena keduanya pernah menikah sebelumnya dengan pasangan yang lain — dan keduanya pun telah memiliki anak-anak dari pernikahan sebelumnya. Danang telah punya dua anak laki-laki, sementara Hartini empat. 

          Kedua anak Danang tinggal bersama mantan istrinya, sementara keempat anak Hartini tinggal bersama nenek mereka — ibunya Hartini. Namun, rumah ibu Hartini hanya beberapa meter di depan rumah yang Danang dan Hartini tempati saat ini.

          Awalnya, halaman rumah ibu Hartini cukup luas, namun setelah Danang menjadi menantu, lelaki itu dengan segera membangun rumah. Bukan main bahagia kedua orang tua Hartini. Mereka bangga memiliki menantu yang beda dengan menantu sebelumnya. Baru kali ini, Hartini dibuatkan rumah oleh lelaki yang berstatus suami meskipun masih di atas tanah orang tua,

          “Ndak apa-apa, toh ntar juga itu tanah bagian kau, Hartini. Juga kedua adikmu. Jika sudah ada rezeki, sebaiknya kau ganti itu tanah dengan uang buat kedua adikmu,” begitu kata ayah Hartini yang diiyakan oleh istrinya.

          Pekerjaan Danang, seorang bussinessman, begitu yang sering dilontarkan Hartini. Namun orang-orang sekitar tak pernah tahu jelas apa jenis bisnis yang Danang tekuni. Terkadang Danang bergonta-ganti mobil. Lalu, dengan mudah membangun rumah.

          Hartini sendiri tak begitu jelas jenis bisnis suaminya. Sering ia ingin menanyakannya ketika Danang tengah tak di rumah, namun anehnya setiap bertemu dengan Danang, keberanian itu hilang. Mulut Hartini seolah terkunci. 

          Dalam dua bulan ini, Hartini ngidam. Bersamaan dengan itu, ia penasaran tingkat tinggi akan uang dalam peti di kamar sebelah yang selalu terkunci. Kamar itu sengaja dipersiapkan Danang jika Danang berkepentingan melakukan ritual-ritual yang berhubungan dengan ilmu gaib.

          Pagi itu, Hartini tengah sendirian di dalam rumah. Danang tengah ke luar kota bersama teman bisnisnya. Kunci kamar itu ditaruh Danang di tempat tersembunyi, di bawah kolong tempat tidur. Namun, Hartini berhasil menemukannya karena sebelumnya sempat aksi Danang mencurigakan menaruh sesuatu di bawah tempat tidur mereka.

          “Akhirnya kutemukan….” bibir Hartini tersenyum. Dengan segera membuka kamar itu, dadanya seketika berdegup keras ketika menatap peti di pojok kamar. Telapak tangannya mengelus-elus dulu permukaan atas peti. Ia sadar tengah melakukan kesalahan besar dengan masuk tanpa izin suami ke dalam kamar dan hendak membuka peti. Tidak, ia tidak berniat mengambil uang-uang itu meskipun hanya selembar. Namun, ingin meyakinkan kembali jika semua lembaran di dalamnya akan menjadi miliknya.

          “Uang simpananmu di bank akan berlipat-lipat jika saja kau menuruti apa yang kusarankan,” ucap suaminya tiga bulan yang lalu. Hartini memang memiliki simpanan uang sekitar lima puluh juta yang dikumpulkannya ketika bekerja di sebuah perusahaan kosmetik tatkala menjanda. Kebutuhan hidup keempat anaknya ditanggung kedua orang tua hingga gaji Hartini yang didapat terkadang bersisa.

          Tak sulit membuat Hartini percaya. Esoknya, uang itu ditarik dari bank dan diserahkan pada suaminya. Danang harus melakukan ritual beberapa kali demi hajat istrinya terwujud. Hartini dilarang ini itu agar hajatnya berhasil. Termasuk baru bisa membuka peti itu jika saatnya tiba. Suatu hari yang entah kapan, sebab Danang hanya cukup menjelaskan tak lama lagi.

          Awalnya, Hartini sabar-sabar saja. Namun, kemarin dengan mata kepalanya sendiri, lembaran itu nyata di depan matanya. Dan hari ini, perbawa bayi yang dikandungnya — ia berkeyakinan itu --- ingin melihat kembali isi peti.

          Senyumnya kembali terulas. Jemarinya yang lentik perlahan-lahan mengangkat tutup peti bersamaan dengan suara dari luar kamar yang membuat jantungnya nyaris terhenti. “Danang!” Tentu saja Hartini kaget bukan kepalang. Tubuhnya gemetaran.

          “Apa yang tengah kau lakukan, Hartini? Kau mau membuka peti, ya?” Danang tahu-tahu sudah berada di belakang. Hartini menggigit bibir. Sialnya, mengapa suara mobil tak terdengar? Dan mengapa Danang pulang ke rumah lebih cepat dari yang diperkirakan?

          “A,,,a… nu…” bibir Hartini pun gelagapan. Sudah dipastikan, suaminya akan marah besar. Tubuhnya tak berani berbalik. Ia diam mematung dan bersiap menerima ganjaran dari suami. Namun, tak disangka, Danang mendekat dan mendekap tubuh sang istri dari belakang. Lalu, mendaratkan kecupan-kecupan di pundak Hartini hingga perempuan berusia tiga puluh lima tahun itu sedikit menggelinjang.

          “Sudah sering Mas bilang, kau belum saatnya memiliki uang-uang itu.”

          “Maafin aku, Mas.”

          Pergulatan di tempat tidur meredakan ketegangan di antara keduanya. Sejak saat itu, Danang lebih sering ke luar kota dan Hartini jadi sering ditinggal sendirian.  Terkadang ia sedih karena tidur tanpa pelukan hangat, padahal masih dalam masa ngidam. Saatnya ditemani suami. Begitu pun dengan siang hari, Danang jarang ada. Hingga suatu siang yang panas, ada segerombolan tamu tak dikenal yang datang. Mereka menakutkan bagi Hartini karena wajah-wajahnya tak bersahabat. Malah di antaranya ada polisi dan tentara.

          “Mana saudara Danang?” yang berwajah paling sangar menatap Hartini yang tampak cemas.

          “Sudah seminggu di luar kota,” jelas Hartini. Mereka kembali lagi esok pagi, lalu esoknya, namun yang dicari tak kunjung tiba. Hingga akirnya, mereka menuntut pada Hartini untuk menunjukkan peti berisi lembaran uang yang menurut mereka--itu uang mereka--sesuai kesepakatan dengan Danang yang akan segera memberikan semua isi peti. Hartini kaget namun berusaha menyembunyikan kekagetannya dari mereka. Ia berusaha tenang sementara pikirannya sangat kacau. Teringat Danang yang tidak tahu berada di mana, teringat isi peti yang selama ini Danang janjikan itu milik Hartini.

          Si para tamu menegaskan kalau mereka sudah keluar uang banyak demi uangnya kembali lebih banyak. Danang sering bilang jika petinya ada di salah satu kamar di rumahnya. Lelaki itu menjanjikan akan memperlihatkan isi peti dalam waktu dekat namun selalu saja ingkar dan banyak alasan hingga orang-orang itu pun marah dan berinisiatif mendatangi rumah Hartini karena merasa dipermainkan. Sementara Danang seolah tak bertanggung jawab, sulit ditemui.

          Hartini terus didesak. Ia pun merasa ngiler, masa ngidam belum berakhir. Keinginan untuk melihat kembali uang-uang itu masih terlampau tinggi dan sulit ditahan. Diajaknya beberapa orang yang berkepentingan ikut ke kamar yang kuncinya tetap masih di bawah kolong tempat tidur.

          Pintu kamar terbuka. Empat orang menyerobot masuk. Mereka langsung membuka tutup peti. Seketika semua yang ada terbelalak matanya. Menatap lembaran-lembaran koran yang seperti sengaja digunting seukuran uang kertas.*** 

 

Bandung, 1 September 2019

Komala Sutha, yang lahir di Bandung, 12 Juli 1974, menulis dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Indonesia. Tulisannya dimuat dalam  koran dan majalah  di antaranya Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Jawa Pos, Kompas.id, Republika, Kedaulatan Rakyat, Solopos, MingguPagi, Harian Rakyat Sultra, Harian Fajar, Merapi, Denpasar Post, Lampung Post, Padang Ekspres, Malang Post, Bangka Post, Analisa, Medan Post, Kabar Cirebon, Tanjungpinang Post, Radar Bromo, Diksi Jombang, Radar Jombang, Karebaindonesia, Ayobandung. Com, Tribun Kaltim, Radar Tasik, Kabar Priangan, Galura, Target, Femina, Hadila, Veasna, Karebaindonesia, Potret, majalahAnak Cerdas, Mayara, SundaUrang, WartaSunda, Beat Chord Music, Manglé, SundaMidang, Djaka Lodang,  Mutiara Banten, Kandaga, Cakra Bangsa, Diksi Jombang, Metrans, Buletin Selasa, Redaksi Jabar Publisher, Utusan Borneo dan New Sabah Times. Buku tunggalnya, novel Separuh Sukmaku Tertinggal di Halmahera (2018) dan kumpulan cerpen Cinta yang Terbelah (2018). 

 

Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Senin, 20 September 2021