Artikel

Inovasi Bahasa Ibu dalam Perubahan Sosial

Vito Prasetyo
Rahim Jamal | Senin, 08 Maret 2021

Vito Prasetyo

Tidak dapat kita mungkiri bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi akan berimbas pada perubahan-perubahan sosial. Dalam perubahan tersebut tentu ada sisi positif dan negatif yang merupakan akumulasi dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan itu tentunya juga akan menimbulkan terjadinya pergeseran dalam lingkup tata cara kehidupan bermasyarakat.
 
Kini, dengan pengakuan para ahli dan ilmuwan, yang menyebut zaman modern dan milenial sebagai gejala refleksi era baru, pastinya akan berhadapan dengan tantangan zaman yang berbeda pula. Gejala itu secara sederhana dapat dilihat pada perubahan perilaku sosial yang sudah sangat jauh berbeda jika kita bandingkan di era abad ke-20 dan abad kini, ke-21. Tekstur dan fenomena baru muncul akibat sebuah revolusi iptek.
 
Sayangnya, dengan perubahan yang terjadi, nilai-nilai sejarah dalam lingkup budaya makin tergeser dan sedikit demi sedikit mulai punah. Bahasa yang menjadi cermin budaya dalam mempertahankan eksistensi adat istiadat juga terkena imbas sangat besar dari perubahan itu. Sebagaimana dari sumber catatan data bahasa daerah yang kita miliki, bahasa daerah kita dari tahun ke tahun makin hilang, terutama bahasa daerah dari subsuku pedalaman. Kekayaan bahasa daerah/lokal yang menjadi tonggak kebinekaan bangsa kita tidak terjaga secara utuh.
 
Bahasa daerah yang sering disamakan dengan bahasa ibu adalah pengenalan awal konsep budaya dalam keluarga. Kalau kita tinjau dari sudut frasa kata, bahasa ibu memiliki arti bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak lahir melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat. Dalam lingkungan keluarga (kecil), biasanya seorang ibu mengenalkan bahasa kepada anaknya dengan bahasa yang dipakai sehari-hari. Lingkungan perdesaan masih sangat kental dengan kultur (budaya) bahasa daerah yang dipakai dalam berinteraksi.
 
Lalu pertanyaannya, mengapa saat ini bahasa daerah yang sering disejajarkan dengan bahasa ibu mulai punah? Ada banyak variabel yang mengakibatkan terjadinya pergeseran serta pengikisan budaya, terutama lingkup bahasa. Ada paradigma yang keliru dalam masyarakat bahwa bahasa daerah yang digunakan oleh kelompok atau orang per orang di masyarakat umum dianggap kurang etis atau melanggar norma-norma keberagaman masyarakat. Hal tersebut juga sering dikait-kaitkan dengan konsep pemikiran dinamis yang menganggap pemakaian bahasa daerah adalah budaya orang yang ketinggalan zaman atau tidak modern.
 
Ada nilai-nilai standar yang diberlakukan tanpa perjanjian tertulis bahwa penggunaan bahasa subsuku pedalaman menjadi penghambat masyarakat pedalaman untuk bisa maju dan berperan aktif dalam pengembangan dan kemajuan iptek. Terlebih lagi, pertumbuhan teknologi maju seperti saat ini melalui media berbasis jaringan internet sudah merambah sampai ke pelosok-pelosok desa terpencil. Dengan pola pikir maju, masyarakat mempunyai kecenderungan untuk lebih menguasai bahasa teknologi.
 
Peran teknologi maju tidak berbanding lurus dengan penjagaan eksistensi nilai-nilai ekosistem budaya lokal. Kemajuan iptek yang begitu pesat memacu penggerusan budaya (adat istiadat) lokal, termasuk di dalamnya penggunaan bahasa. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana kejadian 10 atau 20 tahun ke depan jika hal tersebut terus dibiarkan menggerus budaya lokal atau bahasa daerah kita. Sementara itu, bahasa teknologi yang sarat dengan istilah asing semakin menjadi pilihan untuk menambah perbendaharaan kata dalam literasi linguistik kita.
 
Hal yang sering kita lupakan adalah dalam hal mengakses informasi baru, terutama literasi asing. Kurangnya filter pengetahuan dapat mengesampingkan peran literasi lokal atau daerah. Hal itu kita anggap sebagai sebuah upaya pengembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Sebagaimana kita ketahui bahwa konsep dasar bahasa adalah bagian yang merupakan satu kesatuan dari unsur budaya sehingga dengan pengelupasan bahasa pada objek baru, secara otomatis fungsi dan peran budaya makin melemah. Harus ada konsep desain yang sistematis sebagai langkah untuk mempertahankan nilai-nilai budaya agar tidak punah secara masif.
 
Dengan permasalahan yang dihadapi, pertanyaan tentu akan muncul, siapa yang harus bertanggung jawab atas pergeseran budaya yang akhirnya sedikit demi sedikit mengalami kepunahan, terutama bahasa ibu (daerah)? Sikap konstruktif oleh pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud, harus segera mencari solusi dengan berbagai terobosan dan inovasi. Hal ini bukan lagi sebuah keinginan, melainkan menjadi sebuah kebutuhan. Jika solusi itu harus menunggu masa pandemi berakhir, kita tentu harus siap dengan makin bertambahnya beban sosial yang berpotensi menggerus struktur bahasa dan budaya.
 
Data yang dirilis berbagai media seakan menjadi peringatan bagi kelangsungan ekosistem bahasa ibu. Indonesia memiliki 718 bahasa daerah. Jumlah bahasa daerah dalam kategori bahasa ibu disebutkan secara terperinci, yaitu 11 bahasa daerah telah punah, 4 dalam keadaan kritis, dan 16 dalam keadaan rentan. Oleh karena itu, pelestarian bahasa daerah yang menjadi bahasa ibu dalam keberagaman penduduk Indonesia tidak hanya menjadi sebuah keinginan untuk mempertahankannya, tetapi lebih dari itu, harus menjadi sebuah wawasan kebutuhan dalam menjaga kelangsungan peninggalan warisan nenek moyang kita. 
 
Bangsa ini tidak mungkin menjadi bangsa yang besar tanpa kita melihat riwayat dan garis sejarah masa lalu yang terbangun sekian abad meskipun usia kemerdekaan kita baru menjelang ke-76 tahun. Peringatan Hari Bahasa Ibu yang ditetapkan pada tanggal 21 Februari setiap tahun harus menjadi momentum berbeda di tengah masa pandemi dan era global seperti saat ini. Momentum itu harus melahirkan kontemplasi bahasa ibu atau bahasa daerah yang mampu menjadi pengakuan dunia dalam menjawab tantangan era kini. Sudah bukan lagi masanya peringatan tersebut hanya menjadi simbol atau seremoni belaka.
 
Sebagai catatan, yang mengakibatkan kepunahan bahasa daerah, antara lain, perkawinan beda suku, urbanisasi yang semakin tinggi, edukasi bahasa daerah makin hilang, dan sebab lain. Bagaimana cara menjaga dan melestarikan bahasa ibu tanpa mempertentangkan revolusi sosial yang berjalan? Salah satu cara adalah dengan menggalakkan edukasi bahasa sastra daerah meski ada banyak cara yang juga bisa mendukung pelestarian tersebut. Kita ketahui bahwa pertumbuhan sastra digital saat ini begitu pesat, tetapi unsur kedaerahan/lokal tidak digarap secara maksimal. Sastra juga merupakan representasi budaya yang mencerminkan keberadaan bahasa. 
 
Bukan sebuah kecemasan atau ketakutan untuk mengembalikan populasi bahasa ibu, minimal mempertahankan yang ada. Mengapa pemerintah tidak berani mendorong kemajuan teknologi dengan konsep kearifan lokal/daerah? Ini tentunya bisa menjadi sebuah gagasan dalam berinovasi untuk menghadapi tantangan perubahan sosial dan tantangan global. Dengan modal pluralisme (keberagaman) budaya dalam bingkai kesatuan bangsa, kita tidak akan kekurangan ide. Misalnya, melalui sistem edukasi yang berwawasan pembangunan budaya daerah, yang tidak harus dengan cara akulturasi bahasa, tetapi lebih menekankan pada minat seni budaya lokal secara serius. 
 
Meminjam bahasa sastra, aku malu menjadi bangsa Indonesia, tentu tidak boleh diterjemahkan sebagai patron hiperbol karena sindiran ini sebagai ungkapan murni seorang Taufik Ismail (sastrawan) dalam melihat semarak kehidupan sastra yang meninggalkan unsur-unsur budaya daerah. Artinya, para sastrawan lebih berbangga menggunakan istilah-istilah yang teradopsi dari bahasa asing. Bukankah khazanah bahasa kita sangat banyak? Bagaimana kita mampu mempertahankan budaya daerah kalau rasa cinta terhadap budaya kita sendiri ditinggalkan? 
 
 
Biodata:
Vito Prasetyo, lahir di Makassar, 24 Februari 1964. Dia pernah kuliah di IKIP Makassar, beragama Islam, dan saat ini berdomisili di Kab. Malang. Dia dikenal sebagai penulis dan peminat budaya. Aktivitasnya dalam bidang penulisan sastra berlangsung sejak tahun 1983. Tulisannya berupa naskah opini, karya sastra (cerpen, puisi, esai), artikel pendidikan, dan bahasa telah dimuat dalam berbagai media cetak, baik lokal, nasional, maupun internasional (Malaysia). Media cetak yang telah memuat karya-karyanya, yaitu Media Indonesia (Jakarta),  Pikiran Rakyat (Bandung), Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), Fajar (Makassar),  Utusan Malaysia, dan lain-lain.
 
 
Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Senin, 8 Maret 2021