Cerpen

Mangata

Hubbi S. Hilmi
| Selasa, 23 Maret 2021

Hubbi S. Hilmi

Bulan sedang penuh di ujung langit sana. Begitu juga dengan matamu yang sedang penuh dengan mangata. Meski mangata kali ini tampak tidak ada bedanya dengan mangata-mangata pada malam sebelumnya. Kau masih tetap tak beranjak dari bibir sampan dengan kaki menggelantung dan bergoyang-goyang. Matamu masih mengamati mangata yang dihasilkan bulan pada bibir air laut malam ini. Seolah menunjukkan satu jalan menuju surga. Matamu menelisik. Sesekali kau tersenyum dan membiarkan matamu yang penuh dengan mangata menitikkan air berkali-kali hingga kering di pipimu. Tak sedikit pun kau usap dengan tanganmu. 
 
“Takkan ku usap!” batinmu.
 
Mangata menjadi salah satu saksi ketika kau dan lelaki yang kini kau tangisi itu mencari nafkah. Selain laut beserta pasirnya, selain malam beserta dinginnya, dan selain langit beserta taburan bintangnya. Juga tentu, selain sampan beserta bekal yang kau masak sehabis isya. Kemunculan penuh bulan dengan mangata sempurna tanpa lubang pada tanggal lima belas itu menjadi berkah bagimu dan lelaki yang sangat kaucinta.
 
“Malam ini pasti banyak sekali cumi,” ujar suamimu tempo lalu tanpa menoleh berjalan tegap menyusuri jalan menuju pantai dengan tangan memegang sebuah senter. Sementara, kau berjalan menatap belakang punggungnya dengan semangkuk nasi beserta lauknya. 
 
Kini, malam itu tinggal cerita. Kini malam itu hanya bisa kau ratapi pada malam di ujung pantai yang sesak dengan sampan itu. Lalu, air matamu mengiringi setiap lekuk air laut dan setiap cahaya yang menjelma mangata di tubuhnya. Ada rasa sesal dan tentu kesal dalam hatimu ketika kau tak mampu meyakinkan suamimu untuk bertahan dalam ketiadaannya.
 
“Demi keluarga kita. Demi semata wayang kita. Ia harus menjadi orang sukses. Agar tak menggantungkan diri pada laut seperti kita.” Begitu kata suamimu ketika kau merengek pada malam sebelum keberangkatannya menuju tanah seberang.
 
“Kau tahu dan kau lihat sendiri keadaan kita. Terutama setelah proyek besar-besaran itu,” sambung suamimu setelah meneguk kopi hitam pahit yang kau hidangkan.
 
“Tak ada lagi yang kita harapkan, kita tak punya sepetak sawah, yang kita punya hanyalah sebuah sampan kecil. Itu pun peninggalan ayahmu dan sekarang sudah lapuk. Tertambal di sana-sini,” lanjut suamimu sambil melinting tembakau dengan kertas putih cap Telepon. Kau hanya bisa terdiam. Sesenggukan. Persis seperti malam ini ketika kau terduduk pada bibir sampan dengan kaki menggelantung dan bergoyang-goyang. 
 
“Aku mengerti perasaanmu. Kau juga tahu aku tak pernah ingin. Tapi...,” kalimat suamimu terhenti. Ia mengisap dalam rokok lintingannya, membuang asapnya dalam satu kali embusan napas. Ruangan yang kau tempati dengannya dengan tubuh saling membelakangi itu penuh dengan asap. Sementara itu, kau masih saja sesenggukan. Sesekali terbatuk karena asap yang mengepul dalam ruangan itu. Sementara di ruangan lainnya saat itu, semata wayangmu sedang dikibuli mimpi-mimpinya pada dipan papan bertikar pandan compang-camping.
 
“Besok aku akan berangkat. Aku hanya minta restumu. Semoga pekerjaan keturunan tak lagi menyertai keluarga kita.” Suamimu berdiri dari dipan papan. Melihatmu dengan wajah hanya sebelah. 
 
“Bukan aku tak bersyukur. Tapi memang ada yang harus diubah. Tuhan tak akan mengubah nasib kita sebelum kita mengubahnya sendiri,” sambung suamimu dan berlalu setelah mengisap dalam rokoknya. Sebelum ia berlalu. ia mengembuskan asap rokoknya bersama dengan satu suara helaan napas. Suamimu menutup pintu dan kau tetap masih sesenggukan menghadap jendela ruangan itu. Memandang jauh pada kabar-kabar yang kau dengar dari Inak Minah saat memburu kutu-kutu pada rambutnya beberapa hari yang lalu.
 
“Jangan diizinkan!” Begitu kata Inak Minah tegang saat kau berbisik suamimu ingin berangkat ke negeri seberang. Menjadi tukang kebun. Bekerja di perkebunan kelapa sawit.
 
Inak Minah menyambung ucapnya, “Kau tahu si Udin?”
 
Kau hanya mengangguk di balik punggung Inak Minah sambil kedua jarimu memilah-milah ruas rambut Inak Minah. Mencari kutu yang hari ini akan bernasib apes. 
 
“Ia tak pernah pulang semenjak ia berangkat. Ia berangkat semenjak lulus SD. Sampai sekarang kabarnya tak ada yang tahu,” lanjut Inak Minah sambil menengadahkan wajahnya. Memburu matamu.  
 
“Lihat juga si Usman. Meskipun ia dapat membeli sepeda motor dari hasilnya merantau, tapi kau lihat badannya. Hanya tersisa tulang. Lihat juga giginya. Kuning menghitam. Tanggal di sembarang tempat,” cerita Inak Minah sambil berdiri dari duduknya.
 
“Ada juga yang bilang badannya penuh dengan luka. Kau pasti tidak mau suamimu seperti si Usman, apalagi seperti si Udin yang tak terdengar kabarnya. Jadi, jangan kau izinkan,” tutur Inak Minah.
 
“Nah... sekarang giliranmu,” sambung Inak Minah. 
 
Kau menggeser tubuhmu ke tempat duduk Inak Minah sebelumnya dengan seekor kutu yang siap kau cabut nyawanya dengan dua kuku pada jempol tanganmu. Sementara itu, Inak Minah berpindah ke belakang punggungmu. Bersiap mencari kutu yang akan bernasib sial sore itu. 
 
Cerita Inak Minah suatu sore itu membuat matamu kini makin penuh. Air matamu terus saja tak henti mengalir pada kedua pipimu. Mangata di wajah air laut itu tak lagi seperti jalan menuju surga bagimu. Mangata itu semakin mencabik seluruh isi dadamu. Merongrong setiap degup jantungmu. 
 
“Kau lihat cahaya itu?” ucap suamimu saat kau membantunya menurunkan sampan suatu malam.
 
“Cahaya itu menyerupai jalan menuju bulan,” sambung suamimu ketika sampan sampai di bibir pantai. Setelah sampan hendak hanyut terbawa ombak. 
 
“Itu jalan menuju surga,” tutup suamimu sebelum naik ke atas sampan dan bersiap berlayar mencari cumi yang didambakannya. Seperti biasa, kau hanya memberinya senyum setelah mencium bahu tangan kanannya. Sementara si semata wayang asyik bermain ombak setelah rambutnya diusap sembarangan berkali-kali oleh suamimu.
 
***

“Menyesal aku memilihnya,” kata suamimu begitu masuk rumah. Ia membanting sajadahnya pada dipan papan. Wajahnya sangat merah dan kecut. Dari sebuah ruangan kau muncul dengan satu gelas air penuh yang siap kau suguhkan pada suamimu.
 
“Sebelum ia jadi, ia selalu membela kami. Sekarang..., aaakhhh...!” cerocos suamimu terhenti. Ia meminum segelas air yang kau suguhkan padanya hanya dalam satu kali teguk saja. Kau hanya mengelus bahunya berkali-kali, duduk di sampingnya. Menatap tajam padanya. Menerka-nerka apa yang tengah dan baru saja terjadi padanya serta siapa pula orang yang dimaksudkannya. 
 
“Tak ada gunanya musyawarah seperti itu. Membuang-buang waktu!” ucap suamimu setelah meletakkan gelas kosong di sampingnya. Kau masih menerka-nerka arah pembicaraannya. Matamu makin awas padanya. 
 
Sore sebelum malam itu, rumahmu kedatangan seorang utusan. Mengucap salam dan mengetuk pintu berkali-kali. Kau yang tengah sibuk dengan pekerjaanmu di belakang rumah menjawab salam dengan setengah berteriak. Mengibas-ngibaskan tangannmu yang basah dan penuh dengan gelembung. Berlari kecil menuju pintu rumah. 
 
“Nanti malam sehabis isya.” Begitu utusan itu menyampaikan maksud kedatangannya padamu. Ia menitipkan pesan bahwa sehabis isya suamimu harus datang ke surau untuk musyawarah dengan kepala desa terpilih saat itu. Suamimu saat itu tidak di rumah, sehabis makan siang, ia pergi ke rumah Sulaiman sahabatnya. Meminta beberapa potong udang mainan sebagai umpan menangkap cumi. 
 
“Semua sampan harus kita pindah,” kata suamimu setelah menghela napas terlebih dahulu malam itu. Wajahmu seketika kecut. Tak kalah kecutnya dengan wajah suamimu. Tubuhmu gelisah, menunggu kata-kata berikutnya dari suamimu. 
 
“Kepala desa menyuruh kita untuk memindah sampan ke ujung pantai kampung,” lanjut tutur suamimu tanpa menoleh padamu. Matanya menatap pagar rumah kalian yang penuh dengan lapuk.
 
“Akan ada proyek pembangunan. Kata kepala desa, pemerintah meminta kita untuk memindahkan sampan kita kalau masih mau menangkap ikan.” Suamimu berbicara seperti orang yang sedang mengigau. Wajahnya kaku seperti tak percaya apa yang dikatakannya sendiri padamu malam itu.
 
“Bukan hanya kita. Mahrup dan kawan-kawannya juga harus menerima sawah mereka dibeli oleh pemerintah.” Suamimu memalingkan wajah padamu. Ia menatap dalam padamu. 
 
“Hmmmm..., kau tahu di ujung pantai sana? Kita harus berjalan kaki lebih jauh dari biasanya. Kita juga harus bersiap menambal sampan karena banyak karang di sepanjang pantai di ujung sana. Bukan hanya itu, kabarnya sebagian besar area di ujung pantai itu sudah terbeli oleh orang-orang asing. Kau bisa melihatnya dengan berdirinya beton-beton di sana. Tampaknya mereka akan membangun semacam penginapan,” sambung suamimu dengan mata memerah dan berkaca. 
 
“Kepala desa hanya menyisakan beberapa meter pantai saja untuk menampung sampan kita,” sambung suamimu kembali. Ia kembali menoleh pagar rumahnya yang lusuh.
 
“Ganti rugi?” jawab suamimu ketika kau menanyakan apakah ada ganti rugi atas pemindahan sampan-sampannya dari pemerintah. 
 
“Ganti rugi akan diberikan sesuai dengan biaya pembuatan sampan terkecil. Seperti sampan Andi!” begitu kata suamimu sambil berdiri menirukan suara dan gerak kepala desa di surau tadi. Kau yang mendengar suamimu berkata selayakanya kepala desa hanya manggut-manggut padanya yang berdiri berkacak pinggang. 
 
“Begitu kata kepala desa di surau tadi sambil menunjuk ke arahku,” sambung suamimu.
 
“Tenang saja! Desa kita akan terkenal sampai ke ujung dunia. Seharusnya kita bersyukur dengan adanya proyek ini. Kalian harus bersyukur punya kepala desa seperti aku!” lanjut tutur suamimu dengan suara dibuat agak serak menirukan kepala desa. Tentu dengan pose yang sama, berdiri dengan kedua tangan mencengkeram kedua pinggang.
 
“Tidak apa-apa. Biarkan dia tahu kalau warganya sudah tidak setuju lagi dengannya. Bahwa ada warganya masih tidak terima dengan keputusannya,” sambung suamimu saat kau mencoba mengingatkannya untuk mengecilkan suaranya yang sedang menirukan suara dan sikap kepala desa itu.
 
Malam itu kini kau ingat lagi pada bibir sampan di ujung pantai dengan mata penuh mangata dan air mata. Yakinmu, musyawarah itu menjadi cikal bakal perginya suamimu dari sisimu. Yakinmu, musyawarah itu menjadi pondasi pesimistis lelaki yang kau pilih karena kerja kerasnya itu. Air matamu makin mengalir mendera pipimu, saat ingatan tentang musyawarah itu kini berkelindan dengan suara serak lelaki di ujung telepon Pak Mustajab, Ketua RT tempat tinggalmu.
 
 “A....aku minta maaf!” Begitu suara terdengar serak terbata-bata pada ujung telepon dan kau sambut dengan rasa heran kemudian isak pada satu kalimat yang diucapkan setelahnya.
 
***    
 
Suamimu memutuskan berhenti menjadi nelayan. Ia berusaha meyakinkanmu pada satu malam bahwa ia mampu mengubah perkonomian keluargamu dengannya menjadi lebih baik. Bahwa ia akan mampu menyekolahkan semata wayang kalian hingga menjadi orang yang sukses. 
 
Menjelang magrib, ia pamit padamu dengan satu tas lusuh berisi hanya beberapa helai pakaian. Kau mengantarnya hingga halaman. Melihatnya menaiki sebuah bus berisikan beberapa teman suamimu yang kau kenal keseharian mereka sebagai nelayan dan beberapa di antaranya sebagai petani, bahkan tiga orang lainnya sebagai buruh tani.
 
Magrib itu bukan hanya kau yang merasa kehilangan. Sejumlah perempuan lainnya menahan hal yang sama denganmu. Menahan isak sembari anak dalam gendongan. Ada pula perempuan lain yang terisak. Delima antara doa dan menahan anak mereka agar tak pergi meninggalkan tanah kelahiran. Kau pun tampak tak tahan dengan pemandangan seperti itu. Angin kau rasa makin dingin hingga menusuk-nusuk dadamu. Lebih-lebih ketika bus perlahan berjalan dan anakmu mulai menangis dan memanggil-manggil bapaknya. Kau dengan sigap membalik badan dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah.
 
Selepas kepergian suamimu, kau jauh tampak lebih kurus dari biasanya. Apalagi sehari-hari kau bekerja menjadi buruh pemanggul batu di proyek yang tengah dibangun pemerintah itu. Bukan hanya tubuhmu yang makin kurus. Wajahmu juga tampak makin meruncing dan juga makin gelap. Menjadi buruh pemanggul batu menjadi pilihan satu-satunya bagimu untuk mempertahankan kepercayaan Inak Muji untuk membiarkanmu ngutang di warungnya. Sampan yang menjadi tulang punggung keluargamu telah menjadi sarang kadal dan beberapa temannya yang lain. Sebelum pergi, suamimu sempat menyerung sampan itu – memenuhi sampan dengan sejumlah tanaman berduri dan potongan-potongan daun kelapa agar tak dipakai ataupun dicuri orang lain, juga sebagai tanda bahwa sampan sedang beristirahat. 
 
Sayup-sayup cerita Inak Minah terus mengiang di telingamu bersamaan dengan sejumlah batu yang kau sunggi di atas kepalamu. Pasalnya, kau belum juga mendengar kabar dari suamimu selepas enam bulan kepergiannya meninggalkan kampung kalian. Hingga suatu siang Pak RT terdengar mencarimu saat kau beristirahat di bawah pohon kelapa dengan keringat masih membasahi wajahmu yang runcing dan gelap.
 
Pak RT menyodorkan sebuah telepon genggam padamu dan beucap singkat, “Semamakbi.”
 
Senyummu langsung merekah. Lelahmu hilang sejenak. Wajah yang runcing dan gelap yang masih basah kau usap dengan baju suamimu yang selalu kau gunakan sebagai alas menyunggi batu-batu itu. 
 
“A....ku minta maaf!” Begitu suara terdengar serak terbata-bata pada ujung telepon dan kau sambut dengan rasa heran kemudian isak pada satu kalimat yang diucapkan setelahnya.
 
“Aku khilaf... Aku menikah di sini. Maafkan aku.” Suara suamimu pada ujung telpon itu kau balas hanya dengan satu tarikan napas. Jantungmu berhenti berdegup. Telepon Pak RT jatuh dari genggamanmu. Mengahantam tanah. Lalu kau tersedu sejadi-jadinya. 
 
“Halo...! Halo..!” Suara lelaki pada telepon yang jatuh itu masih terdengar memanggil-manggil. 
 
“Suamimu tergoda bebalu di penampungan. Mereka tertangkap basah bercumbu oleh warga dan langsung dinikahkan,” ringkas Pak RT padamu setelah memungut dan mematikan teleponnya.
 
Kau yang masih tersedu setengah percaya. Sebelum pada akhirnya Pak RT menunjukkan suamimu sedang mengucap ijab di depan penghulu dan disaksikan sejumlah saksi. Kedua lututmu lemas. Kepalamu terasa pusing. Kau roboh di bawah pohon kelapa itu.
 
Bulan sedang penuh di ujung langit sana. Begitu juga dengan matamu yang sedang penuh dengan mangata. Meski mangata kali ini tampak tidak ada bedanya dengan mangata-mangata pada malam sebelumnya. Kau masih tetap tak beranjak dari bibir sampan di ujung pantai Mandalika dengan kaki menggelantung dan bergoyang-goyang. Matamu masih mengamati mangata yang dihasilkan bulan pada bibir air laut malam ini. Menunjukkan satu jalan menuju nelangsa. Matamu menelisik. Tampak senyummu kecut dan air matamu kian penuh. Menitikkan air berkali-kali hingga kering pada pipimu. Tak sedikitpun kau usap dengan tanganmu. 
 
“Biarkan saja!” batinmu.

Catatan:
• menyerung (bahasa Sasak)
• semamakbi ‘suamimu’ (bahasa Sasak)
• bebalu ‘janda’ (bahasa Sasak)
 


Biodata Penulis:  

Hubbi S. Hilmi lahir di Labuhan Haji, Lombok, Tenaga pengajar pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Khairun Ternate. Bergiat di Komunitas Penyair Institute Purwokerto (KPI) dan bergiat di Komunitas Bacarita Sastra (KBS). Cerpennya pernah muat di Malut Post. Beberapa esai dan opininya pernah muat di SatelitPost Purwokerto, Tabloid Minggu Pagi Yogyakarta, Harian Bhirawa Surabaya, Jurnal Asia Medan, Harian Rakyat Sulawesi Tenggara, Suara Pemred Singkawang. Domisili sekarang di Ternate, Maluku Utara. 
 
Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Senin, 22 Maret 2021