Artikel

Memimpikan Masyarakat yang Literer

Teguh Santoso
Rahim Jamal | Selasa, 23 Maret 2021

Teguh Santoso

Apa kabar, Gerakan Literasi Nasional? Ya, program Gerakan Lierasi Nasional atau GLN sudah berjalan hampir 5 tahun ini. Akan tetapi, secara umum gerakan ini masih belum menunjukkan kiprahnya ditambah lagi makin melemah geliatnya. Gerakan lietrasi dimaknai sebagai kemampuan menggunakan berbagai keterampilan dalam kehidupan. Sudah barang tentu keterampilan tersebut diperoleh melalui atau dengan cara berliterasi. Selama ini kita mengenal adanya pengategorian literasi berdasarkan substansinya. Kategori tersebut terdiri atas literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital (teknologi informasi), literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan. Literasi ini diharapkan mampu menjadikan individu siap memasuki dunia kerja, bijak mengambil keputusan, dan aktif berpartisipasi di lingkungan sosialnya.

Secara spesifik tulisan ini akan mengupas sisi kecil lietarasi baca dan tulis. Literasi baca dan tulis merupakan literasi dasar yang menjadi penghela literasi lain. Hal ini karena baca tulis menjadi syarat mutlak sebelum seseorang merambah ke kategori literasi lainnya. Baca dan tulis ibarat dua sisi keping mata uang. Ia tidak dapat dipisahkan. Bahkan, sebuah teori mengatakan bahwa seorang penulis yang baik, pastilah ia seorang pembaca yang baik. Artinya, ada korelasi yang kuat mengenai kemampuan seseorang menulis secara konten dengan kebiasaan ia membaca. Kekayaan intelektual sangat berpengaruh dalam memberi isi dan warna tulisan seseorang.

Beberapa waktu yang lalu, muncul pernyataan seorang tokoh nasional yang menyatakan bahwa minat baca orang Indonesia sangat tinggi, tetapi daya bacanya sangat rendah. Mengapa demikian? Perlu kita pahami bahwa minat baca berkaitan dengan habituatif alias kebiasaan, sedangkan daya baca berkaitan dengan kualitas bacaan yang dibaca. Saat ini minat baca masyarakat tinggi, tetapi yang dibaca lebih banyak bersifat informasi singkat dan update yang berada di portal berita atau media sosial. Masyarakat kita relatif jarang membaca buku yang memiliki isi atau konten yang lebih bersifat ilmu maupun pengetahuan. Pada beberapa kesempatan, penulis sering menanyakan hal ini kepada peserta di sebuah forum tertentu yang pesertanya sebagian besar guru. Penulis menanyakan hal simpel: Ada yang pernah menonton film “Laskar Pelangi”? Hampir semua menjawab pernah. Lalu, penulis lanjutkan dengan pertanyaan lain: Ada yang sudah membaca novel Laskar Pelangi? Hampir semua peserta menjawab belum. Hal ini mengindikasikan bahwa menonton jauh lebih banyak dilakukan ketimbang membaca bukunya. Kasus ini terjadi hampir di setiap karya sastra yang diunggah ke dalam layar lebar.

Ada hal yang perlu kita cermati bersama mengapa fenomena tersebut terjadi dalam masyarakat kita. Perjalanan ideal sebuah masyarakat seharusnya melalui tahap-tahap berikut. Pertama, masyarakat tradisional. Masyarakat tradisional lebih banyak dicirikan dengan pertanian dan perikanan (agraris). Kehidupan mereka sangat bergantung pada kondisi alam. Pada tahap ini, masyarakat lebih banyak berfokus dengan mata pencarian sebagai petani dan nelayan dengan mobilitas yang relatif terbatas.

Kedua, masyarakat literer. Masyarakat literer ditandai atau dicirikan oleh adanya budaya baca dan tulis. Pada kondisi ini, baca tulis bukan lagi sekadar habituatif, melainkan telah menjadi kebutuhan. Masyarakat Jepang merupakan salah satu yang sangat lekat dengan hal ini. Selain tetap kuat menjaga tradisi, kehidupan modern juga tetap mereka jalankan.

Ketiga, masyarakat modern. Masyarakat modern ditandai dengan budaya audio visual. Hal ini ditandai dengan merebaknya penggunaan internet dan teknologi informatika lain. Hal ini yang menjadi ciri globalisasi saat ini. Saat kita ingin belajar atau melihat kehidupan liar binatang, kita tidak perlu melakukan perjalanan secara fisik ke sana. Dengan teknologi, kita cukup melihatnya di televisi atau media komunikasi lain. Inilah yang menjadi ciri pokok globalisasi.

Sayangnya, tahapan perkembangan masyarakat seperti itu tidak dialami secara mulus oleh bangsa kita. Pada saat kita berada dalam masyarakat tradisional, yang idealnya melalui tahap masyarakat literer, kita telah disuguhi dengan budaya audio visual. Stasiun televisi merebak di mana-mana, baik yang konvensional maupun yang berbayar. Internet telah merambah ke setiap penjuru. Pada saat minat baca dan daya baca masyarakat masih rendah, lebih ekstrem lagi belum tumbuh, kita sudah disuguhi budaya audio visual. Masyarakat yang cenderung menunggu atau malas membaca akan semakin malas karena lebih asyik menonton televisi atau lebih asyik membaca hal-hal yang sifatnya instant. Hal inilah yang sering penulis katakan bahwa kita mengalami lompatan kebudayaan yang fatal. Seharusnya, kita lalui tahapan masyarakat literer, tetapi oleh masyarakat tradisional, kita disuguhi dengan masyarakat audio visual.

Tidak ada salahnya kita terus gaungkan budaya literasi, khususnya melalui baca tulis. Kemajuan teknologi sangat bergantung pada kemampuan dasar seseorang melakukan kegiatan baca dan tulis. Tanpa kemampuan tersebut, mustahil kemajuan teknologi dapat diraih sebuah masyarakat. Semoga kita tetap amanah dalam menjalankan dan menyebarkan gerakan literasi ini untuk kemajuan bangsa Indonesia. 


Teguh Santoso, Perencana Ahli Madya PPPPTK Penjas dan BK, Bogor.
 
 
Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Senin, 22 Maret 2021