Artikel

Pandemi, Sastra, dan Kita

Oleh: M. Zaky Mubarok, S.S.*
Rahim Jamal | Selasa, 23 Februari 2021

Oleh: M. Zaky Mubarok, S.S.*

Setahun yang lalu, tepatnya 31 Desember 2019, pihak otoritas Cina melaporkan sebuah kasus mirip pneumonia yang terdeteksi di Wuhan kepada Badan Kesehatan Dunia (WHO). Seminggu kemudian, 7 Januari 2020, Cina memastikan mereka telah mengenali virus tersebut sebagai virus corona yang baru. Pada awalnya, virus corona baru ini disebut 2019-nCoV oleh WHO. Selang 2 bulan kemudian, 11 Maret 2020, virus corona telah menjangkiti 121.564 orang di 118 negara dan WHO menetapkan covid-19 sebagai pandemi.
 
Tujuh puluh tiga tahun sebelum pandemi covid-19 terjadi, seorang sastrawan Prancis bernama Albert Camus menerbitkan sebuah novel berjudul La Peste. Novel ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Nh. Dini dengan judul Sampar yang berarti penyakit menular. Selain sering disebut sebagai mahakarya dari sang penulis, novel ini juga sering disebut sebagai salah satu novel Eropa terbesar pascaperang dunia II. 
 
Novel ini bercerita tentang sebuah kota fiksi bernama Oran yang sedang menghadapi wabah penyakit menular. Wabah ini disebabkan oleh virus yang berasal dari hewan dan menjangkiti manusia sehingga pada akhirnya melenyapkan separuh warga kota. Melalui sudut pandang tokoh utama, Dokter Rieux, yang notabene adalah Camus sendiri, novel ini dibuka dengan narasi datar tentang sebuah kota. “Oran adalah kota biasa,” tulis Camus, “Tidak lebih dari ibu kota daerah tingkat satu di Prancis yang berada di Pantai Aljazair.” Penduduk Oran digambarkan sebagai orang-orang yang hanya sibuk mencari uang sampai-sampai mereka hampir tidak menyadari bahwa mereka masih hidup.
 
Lalu, dibungkus dengan narasi ala thriller detektif, Rieux menemukan bangkai tikus. Hanya dalam waktu singkat, kota itu dibanjiri ribuan bangkai tikus yang mati dengan cara yang sangat misterius. Tikus-tikus itu keluar dari tempat persembunyian mereka dalam keadaan linglung, mengeluarkan darah dari hidung, kemudian mati. Ribuan bangkai tikus tersebut disingkirkan oleh pihak berwenang. Penduduk Oran menghela napas lega, tetapi Rieux tetap waspada karena ia curiga bahwa ini bukanlah akhir cerita dari kematian tikus-tikus itu. Rieux cukup banyak membaca tentang pola bagaimana wabah bekerja dan bagaimana penularan virus dari hewan ke manusia. Tak lama kemudian, wabah melanda Oran. Wabah mulai menular dari manusia ke manusia, menyebarkan kepanikan dan kengerian di jalanan.
 
Untuk menulis buku itu, Camus membenamkan dirinya dalam sejarah tentang wabah yang pernah dialami oleh manusia. Dia membaca buku tentang Black Death yang menewaskan 50 juta orang di Eropa pada abad ke-14, wabah Italia tahun 1629 yang menewaskan 280 ribu  orang di seluruh dataran Lombardy dan Veneto, wabah besar di London tahun 1665 serta wabah penyakit yang melanda kota-kota di pesisir timur Cina selama abad ke-18 dan ke-19. 
 
Pada Maret 1942, Camus mengatakan kepada seorang penulis, André Malraux, bahwa dia ingin memahami apa arti wabah bagi umat manusia, Camus berkata, “Hal ini mungkin terdengar janggal, tetapi subjek ini tampak begitu alami bagi saya.”  Sejatinya, Camus tidak sedang menulis tentang wabah dalam arti yang sempit, tetapi sebuah metafora tentang pendudukan Nazi di Prancis.  Camus tenggelam dalam tema itu karena ia mengalami sendiri hal tersebut. Ia dan siapa pun dapat mati atau terbunuh kapan pun dan di mana pun. Kejadian yang terjadi dalam sejarah manusia mengajarkan kepada kita bahwa kita rentan untuk dimusnahkan secara acak. Kita bisa saja dimusnahkan oleh basil, virus, kuman, kecelakaan, atau tindakan sesama manusia. Hal tersebut menuntun kita kepada cara pandang Camus terhadap hidup dan kehidupan. Menurutnya, hidup dan kehidupan kita pada dasarnya berada di tepi apa yang dia sebut absurditas. Namun, absurditas itu tidak seharusnya membawa kita pada keputusasaan. Hal ini harus dipahami dengan benar agar menjadi awal pemahaman dari perspektif tragikomedi.
 
Seperti orang-orang Oran sebelum wabah, kita beranggapan bahwa kita akan hidup selamanya dan dengan kenaifan ini muncul perilaku yang dibenci Camus: obsesif dengan status, sok bermoral, dan gampang menghakimi orang lain. Penduduk Oran selalu berpikir jika wabah hanya terjadi di masa lalu. Sementara itu, mereka adalah orang-orang modern dengan telepon, trem, pesawat terbang, dan surat kabar. Mereka yakin tidak akan mati seperti orang-orang malang di London pada abad ke-17 atau Kanton pada abad ke-18. “Mustahil menjadi wabah, semua orang tahu bahwa wabah telah lama lenyap dari Barat,” kata salah seorang tokoh.  "Ya, semua orang tahu itu," tambah Camus sinis, "Kecuali orang mati." Bagi Camus, dalam hal kematian, tidak ada kemajuan dalam sejarah, tidak ada jalan keluar dari kebejatan moral kita, hidup kita akan selalu dalam keadaan genting dan rentan. Ada atau tidak adanya wabah, kita selalu hidup dengan kerentanan terhadap kematian yang mendadak, suatu peristiwa yang dapat membuat hidup kita tidak berarti. Namun, penduduk Oran tetap menyangkal kondisi genting yang sedang mereka hadapi. Bahkan, ketika seperempat kota sekarat, mereka terus beranggapan jika kondisi mereka baik-baik saja.
 
Pada puncak wabah, ketika lima ratus orang sekarat setiap minggu, salah satu musuh utama Camus dalam novel itu muncul. Seorang pemuka agama bernama Paneloux. Dia memberikan khotbah di katedral yang berada di alun-alun kota.  Dia menjelaskan wabah sebagai hukuman Tuhan atas kebejatan moral manusia. Namun, tokoh Camus dalam novel tesebut, Rieux, membenci pendekatan itu. Rieux menyaksikan seorang anak kecil meninggal di rumah sakitnya. Menurutnya, wabah bukanlah hukuman untuk apa pun yang pantas dihukum. Hal tersebut sepenuhnya terjadi secara acak, bukan hal yang dapat dinalar, bukan hukuman Tuhan. Absurd saja. Hal itu adalah hal terbaik yang dapat dikatakan seseorang tentangnya.
 
Dokter Rieux bekerja tanpa lelah melawan kematian akibat wabah. Dia mencoba untuk mengurangi penderitaan orang-orang di sekitarnya. Namun, dia bukan orang suci. Dalam salah satu pasase paling sentral dari buku itu, Camus menulis, “Semua ini bukan tentang kepahlawanan. Ini tentang kesopanan. Ini mungkin tampak ide yang konyol, tetapi satu-satunya cara untuk melawan wabah adalah dengan kesopanan.” Seorang karakter bertanya kepada Rieux, apa kesopanan itu? Dokter Rieux hanya menjawab, “Secara umum, saya tidak bisa mengatakannya, tetapi dalam kasus saya, saya tahu bahwa kesopanan adalah melakukan pekerjaan saya sebaik-baiknya."
 
Akhirnya, setelah lebih dari setahun, wabah itu mereda. Penduduk Oran merayakan karena keadaan kembali menjadi normal. Namun, ini bukan cara Camus melihatnya. Dokter Rieux mungkin telah membantu mengalahkan wabah tersebut, tetapi dia tahu akan selalu ada wabah yang lain. Dia tahu bahwa orang-orang pasti tidak menyadari bahwa wabah virus tidak pernah mati atau hilang seluruhnya. Wabah itu hanya tidur, menunggu dengan sabar selama puluhan tahun ke depan di kamar tidur, gudang bawah tanah, bagasi, sapu tangan, dan koran-koran tua. Ketika masa itu datang, wabah akan sekali lagi melenyapkan kota yang lain. Camus berbicara kepada kita bukan karena dia adalah seorang peramal hebat yang bisa memahami apa yang tidak bisa dilakukan oleh ahli epidemiologi terbaik, tetapi karena dia dengan tepat menilai sifat manusia dan tahu tentang kerentanan mendasar serta absurditas dalam diri kita yang biasanya tidak kita sadari. Dalam kata-kata salah satu karakternya, Camus tahu bahwa “Setiap orang memiliki wabah di dalam dirinya karena tidak seorang pun di dunia ini, tidak seorang pun, yang bebas dari wabah.”
 
 
*M. Zaky Mubarok, seorang esais dan guru bahasa Inggris di MAN 2 Brebes.
 
 
Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Selasa, 23 Februari 2021