Puisi

Puisi Aminul Arif

Aminul Arif
| Selasa, 23 Maret 2021

Aminul Arif

Akhir Malam Paotere

Aku berkemas selang subuh
mengetuk malam kian tiada
perahu-perahu layar
menanti ditunggangi
selepas mukenah tanggal
doa-doa menjelma air laut 
mengalir deru mengiring
mata air sampai ke pintu-pintu
langit. gelap meremang angin
berkelebat daun haru tembang kenang 
dan bayang mengantar pada garis 
batas laut ujung mata memandang.
  
Cinta begitu rawan, palang
lengkung tubuhmu mengikat
siasat lelulur kata-kata larut
menjelma buih menuju muasal
mengapa kita diciptakan?

Makassar, 2020

 
 
Mengunjungi Bali

lilin telah kau tiup
umur yang singkat di antara 
bayang maut dan kita terus merayakan,
di pantai yang kujanjikan
kita mengambil gambar diri di tengah
turis setengah telanjang
sedang anak-anak membangun istana pasir               
menimbun tubuh, berdada                                                      
perempuan berkelamin lelaki

di jalan legian kau mencium 
aroma bir yang sedikit berbeda 
seperti bunga bakung tapi yang terlihat
hanyalah kamboja yang menyangkut 
di telinga gadis lokal dan di halaman pura
barangkali kau butuh minum
singgahlah ke paddy’s pub
dengan musik dan goyangan seadanya

tegukan awal––dentuman keras terdengar
melerai musik dan para penari panggung
Meledak. debu meraung, bangunan roboh
aku berlari dan kepalaku mengingatmu
meniup lilin untuk terakhir kalinya
berdarah dan sosok yang terburai
     Meledak!
surga berkeping
tak kau dapati dirimu seperti Ibrahim
menyala dalam api
dewa-dewa muram mata merah
terbakar. kita memangsa sesama
membuas. suara sirene 
dan orang-orang berhambur
mencari tuhan, sembunyi 
tapi berharap ditemukan
dan cinta betul telah tiada.

Makassar, 2020
 
 
Meninggalkan Tanah
 
Cacing tanah menggeliat
di bawah akar pohon tempayang
dengan semut melingkari batang mengiring
makanan masuk dalam lubang-lubang tanah
kita hidup dalam tanah namun terkadang mati
di luar dengan cahaya terang

Orang menggali lubang mengubur
banyak hal semisal kematian atau
sesuatu yang benar tak pernah hidup
segala rupa menyatu di dalamnya
namun nirwana entah di mana?

Di dalam tanah tak ada terowongan panjang
mendaki untuk sampai ke langit
semut-semut, cacing-cacing, akar-akar
kebingungan. Mengapa kita juga harus
digiring ke langit setelah dipaksa
tercabut dalam tanah. 
  
Namun orang-orang bersemayam 
dalam tanah. Menanti punggungnya 
ditumbuhi sayap yang mengepak

Soppeng, 2019


Aminul Arif lahir di Soppeng, 1997. Mahasiswa Institut Sastra Makassar. Akif berkegiatan di Forum Lingkar Pena Cabang Makassar. 
 
 
Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Senin, 22 Maret 2021