Puisi

Puisi Deasy Tirayoh

I Made Ngurah Rai Febrianto | Senin, 06 September 2021

Sirine

Seorang anak menggambar ambulans dengan sirine menyala
Wajah ambulasnya sedih semenjak corona
Meraung di jalan, membawa ratusan nama yang dibenamkan suara
Pada lembar kedua
Tampak para astronot menyambut di depan galian tanah terbuka
Sebuah peti putih bertuliskan Mama berbingkai cinta
Buku gambar ditutup, ada sirine di depan rumah 
Mata kecilnya mengintip ke jendela
Papa sedang dibawa astronot ke angkasa 

Anosmia

Ke mana gurih dari soto betawi
Kue cubit yang kukunyah pun tidak manis lagi
Wangi parfum menghilang meski telah kusemprot seratus kali
Tidak ada cita rasa apa-apa
Oh Tuhan yang Maha Pengasih, maafakan aku 
yang makan rujak cingur kemarin
Barangkali ada karma dari hidung sapi 
yang membuat hidungku tak berfungsi 
Aku juga pernah mencicipi lidah sapi lada hitam 
Barangkali inilah tulah dari nyawa binatang yang meregang
Oh Tuhan yang Maha Penyayang, 
sayangilah hamba-Mu yang drama ini
Anosmia telah membuatku sadar alangkah nikmatnya tiap sendok nasi 
Dan betapa rindunya menghirup aroma tubuh kekasih


Malam di Jakarta

Di gedung kaca 
Aku tidak lebih megah dari pengamen di bawah rel kereta
Berangkat memanggul matahari
Kembali mengeja senja
Dalam gemerlap
Satu dari ribuan tiang lampu kota
Adalah doa ibu yang menyinari pundakku
Perlahan redup menjauh
Sedang aku tertatih meraba malam
Menyelami kebisingan ibukota yang belum padam
 
 
Deasy Tirayoh, penulis asal Kendari yang kini bekerja di Jakarta sebagai perekam mimpi dan peristiwa. Ia giat menulis cerpen, puisi, novel anak, dan skenario film ini telah menerbitkan buku kumpulan cerpen Tanda Seru di Tubuh, Titimangsa, Hikayat Gunung Mekongga, dan Kerang Memanggil Angin.Cerpennya juga termuat dalam buku antologi bersama Tat Tvam Asi (2016), Dari Timur (2017), Kulminasi (2017), Sadasa (2018), dan Cerpen Tani (2018). Puisi-puisinya terdokumentasi dalam buku antologi bersama; 9 Pengakuan, Wasiat Cinta, Langit Kita, Teluk Bahasa, Mentari di Bumi Anoa, dan Kita Halmahera. Beberapa skenario garapannya yang telah diproduksi antara lain:  Larumbalangi, Pelangi Menjuntai di Langit Muna, Rima dan Kima, Sahabat Merah Putih, Sahabat Crayon, Kado untuk Matahari, Kaghati Kolope, dan Bintang Kecil.  Pada tahun 2015, ia diundang sebagai penulis emerging di Makassar International Writers Festival, kemudian di Ubud Writers and Readers Festival tahun 2016. Ia juga menjadi salah seorang delegasi Indonesia di Majelis Sastra Asia Tenggara 2018 
 
Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Senin, 6 September 2021