Puisi

Puisi Faustina Hanna

Faustina Hanna
Rahim Jamal | Selasa, 06 April 2021

Faustina Hanna

Kebebasanku yang Manis
˗˗kepada Yuven Gening

Apabila kau telah berhasil menelusuri dan menempuh
sebuah jalur pendahulu yang paling rahasia,
untuk memasuki diriku. Berteriaklah selantangnya
di dalam,
sendirian saja.

Apa dapat terjamah oleh penglihatanmu, ada banyak
telur api yang masih dierami di sekeliling kolam 
yang tidak memendam dasar,
pun yang tidak mempercayai gerak gelombangnya
sendiri yang belum terberkati
di permukaan.

Maka, biarkan napasmu berhimpun,
dan kecamlah kesunyian-kesunyian bertopeng yang
hendak berkhianat terhadap induk yang menitip
wasiat ketabahan
pada gugurnya helai-helai rambut.

Ingat,
jangan membekali diri dengan cermin,
kau tiada pernah membutuhkannya di sini, sebab
tiada suatu pun yang mampu diterangkan 
olehnya, mengenai misteri hatiku dan hatimu
yang begitu leluasanya kita ingkari
bahkan dustai.

Baiknya kau tetap berjalan,
terus
berjalan

Ya, letak jiwaku di ujung sana, serupa kotak hitam
purba yang belum pernah dikunjungi. 
Mmm, kuharap diriku tidak akan (sengaja) 
menjadikanmu tersesat, hingga tiba saat kau sungguh
membukanya,
kemudian sentuhlah,

˗˗Sentuhlah kebebasanku yang manis!

November, 2020

 
  
Surat Hua Mulan*

Penyair perempuan kehilangan
Dadanya. Dada yang senantiasa berjuang
Di dalam doa. Ketika surat harum itu datang
Menjelma tamu dari satu dunia 

Yang teramat jauh: dunia yang kata mereka
Enggan melibatkan diri dengan keceriaan 
Musim dingin. Penyusun 
Boneka-boneka salju 

"Aku telah menyakitimu dengan rindu ini. Kapan
Kau akan kembali mengunjungiku. Di Seruni. Ingatlah ini,
Apa yang lahir dari dada kita, ia akan pergi bertualang dan 
Belum pasti akan kembali. Pada dada yang bersetia menyalakan
Doa untuknya."

hotel-perbukitan Seruni-Bogor, 2016

*Hua Mulan: pejuang wanita legendaris yang menjadi panutan heroik bagi para pahlawan bangsa Han pada zaman-zaman berikutnya.


Malam yang Bertuak, 1
   : puisi                      
      
Perempuan bertulang kaca−kekasih terlarang dari penyair itu−pergi mencari-cari lelakinya, sebelum lelakinya benar-benar rela lesap kembali ke palung malam yang bertuak. Malam dengan kembar bulan jingga yang dapat dilihat utuh dari bumi. Selendang kelabu yang membayang telah menyesatkan permukaan bulan. Sebab ia telah bertahun-tahun lamanya menganggap lelakinya adalah puisi, yang kala itu berkapar diselamatkannya dari sekelumit aksara yang terlampau rumit. Yang celakanya, aksara yang gemar menyaru sebagai peri bermata bulat jernih itu diyakini teguh oleh si lelaki sebagai pijar kekasih yang abadi. Yang dahulu sekali setia menyusun tangga cahaya tak lazim, pada khusyuk ibadah-ibadah malamnya.  

2013


Faustina Hanna, lahir di Jakarta, 5 April 1987. Penikmat seni dan budaya. Sehari-hari bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta di Jakarta, aktif menulis puisi, freelance graphic design, dan menekuni dunia kuliner nusantara. Sajak-sajaknya terbit di Republika, Media Indonesia, Jurnal Nasional, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Rakyat Sultra, Lombok Post, Bali Post, Tribun Bali, Pos Kupang, Radar Cirebon, Radar Lampung, Radar Mojokerto. Beberapa sajaknya terhimpun dalam antologi bersama Kutukan Negeri Rantau (2011), Jembatan Sajadah, Kabar dari Negeri Seberang (2012), Kursi Tanpa Takhta (2012), Berbagi Kasih (2012), Antologi Bersama Lomba Cipta Puisi Nasional Komunitas Kopi Andalas (2012), Nostalgia Filantropi Tiada Terbalaskan (2020).
 
 
Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Senin, 5 April 2021