Puisi

Puisi Galuh Kresno

Galuh Kresno
| Senin, 19 April 2021

Galuh Kresno

Aleta

I
Ke puncak Brama, 
melalui lika-liku jalan 
rebah segalanya, duri terlindung ilalang 
melukai kaki laki-laki; 
pendaki yang memecahkan teka-teki cahaya 
“bakal seperti apa lanskap yang digurat awan
dari sebagian bias lentera?”
(pergerakan fajar menuju senja adalah sujud matahari)

Selama mengulum kerikil 
di antara langkah bimbang 
melintasi tebing biru 
ia mulai mengenal bahwa di langit
planet-planet menanti,  
“aku ingin berbicara kepada planet-planet itu, 
adakah penderitaan dalam mereka.” 

II
Kau tetap khilaf  
kepalamu lebih batu dari kerakal 
hitam matamu 
melebihi gelap tekad memburu akal.

Kira-kira memang setinggi itu 
jarak yang harus ditempuh, 
menempa kesaktian tapa 
di setapak perjalanan silsilah 
di panggul ranting-ranting pohon
berkali-kali menggugurkan usia,
daun di pucuk tahta, kering, jatuh, lalu diinjak juga.

Badan merana dahaga
letih memanggul beban ritual, 
mendaki berarti menumbalkan tenaga, 
mendaki berarti meninggalkan kota;
cinta kepada gadis bermata zamrud 
hanya menjadi kisah yang tak nyata.
Aleta, Oh Aletaku! 
Kukejar wajah yang membayang itu
Ke puncak nadir 
puncak gunung paling gunung.

III
Batas-batas pandangan
mendera arah, senjakala cahaya 
kala fajar mulai menyulam hari,
pendaki meraba tebing
pendaki menyasar mata angin
mencari terang cahaya.
Aleta, Mengapa pula buruk nasibku?
Demi melihat wajahmu, 
kini bukan saja kau sukar kucari
cahaya seperti benci padaku!

“Padahal satu-satunya api; 
nyala obor di genggaman tanganmu
dan sejak pagi, yang kau keliliingi
ialah halaman rumahku, kau telah diakhir pendakian.
Gerangan kau memang silap mengingat aku.”

Pemuja fajar merayakan kelahiran
pemuji senja merindukan kematian,
kedua-duanya silap;
padang siang hari memperjelas harapan
kian nyata, kian lenyap.
Aleta, wajahmu gemulai api
Muskil kuraba, 
Rona batinmu nyala bara
Kapan kian sejuk?
Kapan makin gerah? 

1 November 2020
 
 
Laut Melarung Nenek Moyang

di dalam bingkai sejarah
ombak meluapkan gelombang 
melebihi pigura ingatan.

Rangga Demang, 
Rangga Demang! 
Gentar bakal kalah 
hilang kalang tahta istana
di garis tanganmu, nasab mendarah 
nasib tersulam daging.
Raja para raja segala kampung kelahiran nenek moyang 
menguburkan mayat sejarahnya sendiri
diburu dan dibunuh pisau lidah menghunus
kejayaan abad lalu;
babad yang tak diajarkan kepada anak cucu.

Kapal-kapal yang asing pasir leluhur
memaksa jangkar mengikat dermaga.  

Rangga Demang! 
Rangga Demang! 
nelayan jadi tukang batu
petani jadi tukang batu
menanam benteng batu
membagi tanah dan waktu untuk panguasa baru 
dan mereka telah benar-benar melarung bangkai nenek moyang, 
dalam bingkai sejarah 
di silap keagungan nenek moyangnya.

6 Oktober 2020
 
 
Selain Rambut, Adam Memakai Mahkota

diberikan ketika kutukan diusir dari surga. 
Mahkota tak tergapai tumbuh pohon, 
mereka memilih bisu, 
oleh binatang, 
mereka memilih telanjang, 
bahkan seekor ular 
selalu menyelinap bukan untuk mencuri; 
numpang hidup mendunia. 

Mahkota mujarab  
melebihi tinggi langit 
menyimpan seisi bumi, 
Adam hanya menggunakannya 
untuk menyimpan awan di sisi kiri, 
menyimpan teratai di sisi kanan 
di antara keduanya, membayang sarang jerami ababil. 
Tempat beranak pinak 
dapat ditinggali sebanyak turunan lelaki pesimis hingga akhir.

Di sarangnya ababil berkicau, 
kicau kacau saling silang sering silap menjadi kalimat, 
dan ular selalu ikut berbisik mendesiskan kekacauan.   

November 2020


Galuh Kresno lahir di Cilacap, 23 September 1997. Anggota Komunitas Penyair Institute (KPI), Serayu Institute Purwokerto, Kalatidha Institue. Beberapa karyanya berupa puisi dan esai pernah dimuat di Radar Banyumas, Rakyat Sultra, Magelang Ekspres, Minggu Pagi, Fajar, Suara Merdeka, Biem.co, jejakimaji.com, dan Sahabat Keluarga. Penulis berpartisipasi dalam antologi puisi Kelahiran Kedua, Arun, Kepada Toean Dekker, dan sebagainya.
 
 
Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Senin, 19 April 2021