Puisi

Puisi Ramadoni Rongi

Ramadoni Rongi
Rahim Jamal | Selasa, 23 Februari 2021

Ramadoni Rongi

Menyaksikan Berkas-Berkas Keindahan

Seberapa tangguh dirimu
sekuat apa hatimu
yang diterjang bertubi-tubi
dan kau tak tahu kapan ini akan usai

Pagi selalu datang
dengan gerimis, hujan, kabut, atau serupa kegelisahan
kadang juga cerah mendamaikan
namun, seberapa kuat kau bisa berdiri?

Kau ingin melihat warna senja
dengan udara mengalir lambat 
serta sentuhan-sentuhannya yang lembut
lalu kita duduk di dermaga 
tepat kemarin menunggu sore

Matamu terpaku pada sinar mentari yang jatuh di wajah laut
sebagaimana laut, hatimu pun tenang adanya
kau bertanya:
“Mengapa cuaca begini damainya?”
aku tak menjawab
tahu benar kau tak butuh jawaban

Sambil menggumamkan namamu
aku genggam tanganmu
kepalamu di pundakku, hatiku di hatimu
berdiam kaku, mata satu tuju

Akhirnya,
dari sekian petang kita menunggu
satu tabir lagi yang tersingkap
betapa indahnya
betapa syahdunya
namun, seberapa kuat kau bisa berdiri?

Maret, 2020
 
 
 
Isi Hati Kemiri

pohon-pohon kemiri
sepanjang tahun berbunga
menghiasi pucuk dahannya
sepanjang tahun berbuah
lalu jatuh ke tanah
di dekat batang pokoknya
dalam bayangan yang sunyi

biji kemiri kukumpulkan
dengan jemariku yang lunglai
tapi sebelumnya harus kusiangi 
segala rahasia semak yang menghalangi
biji demi biji kukumpulkan satu-satu
kadang kudapati masa laluku
yang bersembunyi di rerumputan
yang terjepit bebatuan

biji kemiri yang tangguh 
memeluk isi hatinya yang putih
dengan kulitnya yang hitam

mencari buah kemiri juga mencari isi hati
menginginkan yang terbaik
namun, tak sedikit kosong dan busuk
segala yang rusak itu tampak
setelah rahasia kulitnya pecah terbuka.

Agustus, 2020
 
 
 
Rindu Adalah Anak Panah

Rindu adalah anak panah yang dilepas tanpa aba-aba
tunggu ia tiba padamu dengan berbagai sebab 
sebab pertama karena Adam dan Hawa diturunkan terpisah
sebab kedua tulislah sendiri wahai jiwa-jiwa yang mencari

Aku juga sedang mencari
mereka sangka aku tersesat
tapi bukankah mata terkadang keliru
dan telinga tak bisa mendengar tangis pepohonan yang melepas daunnya
aku mencarimu pada bebunyian juga wewangian

aku di dalam musik alam
melayang-layang dan terayun di atas sungai jiwa yang indah
arus kehidupan membawaku ke tempat-tempat tak kuduga
yang sekali lagi membuatku terbuai

pengembaraan jiwa selalu tak terduga 
sayap-sayapnya adalah kebebasan
kaki-kakinya adalah cinta
dan jika terluka, itu agar ia istirahat sejenak
bukankah banyak hal perlu alasan untuk istirahat 
banyak cinta yang harus melukai
dan banyak luka karena kebebasan

angin membelai rambutku, menyentuh telingaku, dan menyelubungiku
kemudian, menculikku darimu
tapi jangan lupa aku mesti kembali
karena rindu selalu menemukan arahnya

Rongi, Agustus 2020
 
 
 
Ramadoni Rongi lahir 10 Februari 1995 di Desa Rongi, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. Ia mulai bergabung di Komunitas Ganda Gong Theater tahun 2015 hingga saat ini. Selain sebagai penyair, alumni Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo, ini juga dikenal sebagai aktor yang mementaskan berbagai lakon bersama Ganda Gong Theater.
 
 
Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Selasa, 23 Februari 2021