Artikel

Sastra dan Keadaan

Raudal Tanjung Banua
Rahim Jamal | Selasa, 06 April 2021

Raudal Tanjung Banua

“Sebenarnya saya tidak pernah ingin menulis cerpen-cerpen seperti dalam Saksi Mata—cerpen-cerpen itu dilahirkan oleh keadaan. Cerpen-cerpen yang selalu ingin saya tulis adalah seperti yang terkumpul dalam Negeri Kabut ini.”
 
Itulah testimoni Seno Gumira Ajidarma yang dicantumkan di backcover bukunya, Negeri Kabut (1996). Perihal sikap ini, dengan contoh sedikit berbeda, pernah juga saya dengar dari seorang kawan yang sempat bertemu Seno di Sanur, Bali. Kawan itu memuji Saksi Mata sebagai karya yang berhasil jadi saksi mata militerisme di Timor-Timur. Namun, Seno berkata bahwa ia lebih menyukai karyanya Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1999), sebuah kumpulan cerpen yang mengeksplorasi kehidupan urban sehari-hari. Tema ini lebih kurang sama dengan Negeri Kabut, berisi dua belas cerpen tentang perjalanan, cinta dan kesetiaan, yang kadung dianggap populer dan romantis.  
 
Seno tak basa-basi. Sepanjang yang dapat kita ikuti, kecenderungannya memanglah mengolah tema urban-metropolis. Selain dominan, tema tersebut terkesan ringan dan bermain-main. Hal ini bisa ditengarai dari judul-judul cerpennya yang kemudian menjadi sangat populer, seperti “Sepotong Senja untuk Pacarku”, “Atas Nama Cinta”, “Matinya Seorang Penari Telanjang atau Aku Kesepian Sayang”, “Datanglah Sebelum Kematian”, termasuk cara memperlakukan tokoh Sukab dan Alina yang romantik.
 
Bagi sebagian kalangan yang mengharapkan hal-hal ideologis, pilihan Seno boleh jadi mengecewakan, terlebih jika merujuk kredonya yang heroik, “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Harapan ini setidaknya tersirat dari cara kita mendudukkan Saksi Mata sebagai karya yang sangat politis atau Penembak Misterius (2007) yang dianggap satire atas kasus Petrus meskipun dalam kumpulan tersebut cerita tentang Petrus tiga buah saja. Jumlah itu sangat sedikit jika dibandingkan Saksi Mata yang memuat tiga belas cerpen tematik tentang militerisme di Timtim.
 
Melalui akses dan kemampuan Seno, hal-hal politis-ideologis, pinjam istilah Eka Kurniawan, bukankah seharusnya bisa menjadi “senyap yang lebih nyaring”? Namun, begitulah, Seno cenderung memilih “jalan aman”, jika istilah ini tepat digunakan. Cara aman ini bisa dirujuk dari pengakuannya dalam Borobudur Writers and Culture Festival (BWCF) tentang cerita silat. Ia mengatakan, dalam Nagabumi, ia sengaja menciptakan tokoh yang berjarak dengan istana, semacam punakawan bahkan orang biasa, bukan tokoh penting apalagi sentral. Dia menggunakan jurus “konon” dan “katanya”, dan itu bisa lebih mudah meskipun jelas bukan tanpa risiko. 

Bukan Tanpa Ideologi
Sejak reformasi, pers tak lagi dibungkam (mungkin ada yang menyanggah, “siapa bilang?”) sehingga cerita-cerita ideologis perlawanan seolah ketinggalan zaman. Orang dianggap jenuh dengan puisi pamflet atau teater protes. Lalu, Seno menggarap karya “sastra murni”, buah kompilasi “fakta-fiksi” dalam ranah “sastra koran”, termasuk kemudian mendaras cerita silat Nagabumi atau cerita pewayangan Kitab Omong Kosong. 
 
Sebenarnya, jauh sebelum menulis cerita silat dan pewayangan serta cerpen “politik”, seperti Saksi Mata atau Jazz, Parfum dan Insiden, Seno lebih dulu bertungkus lumus dengan cerita-cerita urban metropolitan. Cerpennya, “Pelajaran Mengarang” yang terpilih sebagai Cerpen Pilihan Kompas 1993 atau “Manusia Kamar” (1988) menunjukkan totalitas itu. Buku Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi juga terbit pertama kali tahun 1995, berdekatan dengan Saksi Mata (1994). Sekalipun mengangkat cerita keseharian kaum urban-metropolis, terutama melalui sosok Sukab atau Alina yang rada romantik, isinya sejatinya tetap mencerminkan kehidupan “politik” sekalipun tidak secara langsung menohok aktor utama dari ranah politik. Siapa bilang tidak “ideologis”?
 
Dalam pengantar Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (jarang-jarang ia membuat pengantar cerpennya), Seno mengaku proses lahirnya cerpen tersebut sangat panjang. Bertahun-tahun judul itu menjadi rongga kosong atau semacam bingkai yang belum terisi. Sampai suatu hari pada senja kala Orde Baru yang makin masif, ia menjumpai di koran, foto sutradara Teater Koma, N. Riantiarno, terlihat sedih karena pentas teaternya dilarang. Saat itulah Seno berpikir, “Masa pentas saja tak boleh?” dan segera klop, “Masa menyanyi saja tak boleh?” Itulah masa penindasan, untuk urusan sepele dan keseharian pun kita dilarang, boleh jadi itu terjadi sampai sekarang, bermimpi bertemu nabi pun—sebagai contoh—urusan bisa sampai ke kepolisian.
 
Dalam beberapa waktu, Seno pernah terjun ke “politik praktis” dengan merespons secara langsung kasus-kasus politik tanah air. Akan tetapi, menurut saya, ia hanya berhasil dalam peristiwa Timor-Timur lewat Saksi Mata, sedangkan novelnya Jazz, Parfum dan Insiden yang berangkat dari kasus politik yang sama tidak senyaring kumpulan cerpennya itu. 
 
Kemudian, ia memasuki kasus Petrus yang heboh dan juga beraroma politik (“sebagai shock-therapy,” kata Soeharto dalam biografinya), tetapi juga kurang “bunyi”. Ia merespons DOM (daerah operasi militer) Aceh semisal dalam cerpen “Telepon dari Aceh” yang sama kejamnya dengan Timtim, toh tetap tertutup bayang-bayang Saksi Mata. Barangkali karena jumlahnya tidak sebanyak “Seri Timor-Timur” atau penulisannya kurang simultan sebagaimana Saksi Mata.
 
Dari peristiwa gerakan reformasi, Seno menulis drama “Mengapa Kau Culik Anak Kami?” (2001) yang dilengkapi keterangan: Tiga Drama Kekerasan Politik. Berita tentang pentas keliling naskah itu oleh aktor-aktris kenamaan, Niniek L. Kariem dan Landung Simatupang, terdengar lebih kencang, alih-alih teksnya. Terakhir, ia merespons kasus pembunuhan Munir dengan menulis cerpen “Aku Pembunuh Munir”, yang tetap saja tak bisa menggeser sosok Seno dari “Sepotong Senja” dan sejenisnya. Apa boleh buat. 

Tak Menolak Keadaan
Mengapa dalam proses kepengarangannya Seno mesti melewati semacam “politik praktis”? Upaya katarsis? Panggilan moral? Untuk menjawabnya, kita bisa kembali kepada testimoninya, dipaksa keadaan. Ya, keadaan mengharuskannya menempuh jalan tersebut meskipun mungkin bukan pilihan lempang yang diniatkan. Kita ingat saat ia menulis Saksi Mata sepanjang 1992-1994. Seno adalah wartawan majalah Jakarta-Jakarta yang dalam kerja jurnalistik harus melaporkan situasi Timor-Timur yang penuh demonstrasi, perlawanan, dan kekerasan balasan oleh militer. 
 
Suatu ketika majalah tempatnya bekerja dihentikan terbit oleh perusahaan setelah laporan berseri dari Timor-Timur mendapat protes dari “pihak tertentu”. Padahal, bahan tentang provinsi ke-27 Indonesia itu sudah banyak terkumpul, baik melalui wawancara maupun pengamatan. Oleh karena itu, tak ada yang lain, keadaan memaksanya untuk “membocorkan” fakta-fakta tersebut melalui fiksi. Hal ini bukan perintah tugas kantor, melainkan naluri jitu seorang pengarang cum jurnalis. Ajaibnya, cerpen-cerpen tentang kekerasan itu bisa aman-lancar dipublikasikan di media besar ibu kota: Kompas, Republika, dan Media Indonesia. Kredo “Ketika jurnalisme dibungkam sastra harus bicara” muncul dari keadaan ini meskipun masih bisa dikritisi.
 
Pada masa Gerakan Reformasi 1998, anak semata wayang Seno, Timur Angin, dipukuli aparat di bundaran UGM, arena demonstrasi paling bergairah di Yogya, bahkan mungkin di Indonesia. Saat itu Seno berniat menggugat Panglima ABRI, Wiranto. Entah gugatan itu jadi entah tidak, yang jelas setelah itu lahirlah naskah Mengapa Kau Culik Anak Kami? Sebuah keadaan lagi.
 
Sampai di sini kita paham bahwa orang paling “ideologis” sekalipun tak akan nyaman menjadi liyan. Apa yang ingin saya ungkap bahwa menjadi pengarang mesti menjadi diri sendiri, semua sudah tahu. Namun, yang lebih penting, bagaimana seorang pengarang masuk dari berbagai jalan kreatifitas untuk menyampaikan “tendens” (pesan, amanat)—jika tendens dalam sastra dianggap (masih) ada, apa pun keadaannya.
 
Begitulah, muncul sebagai Mirah Sato, sejak awal Seno sudah akrab dengan kehidupan pinggir rel dan girli (pinggir kali) di Yogyakarta dan bertahun-tahun kemudian lokus itu mewarnai karyanya. Bahkan, sampai edisi terakhir, cerpennya seperti kembali menjenguk dunia “girli” Yogya dalam kisah kehidupan malam di alun-alun atau gerbong kosong kereta api Stasiun Tugu. Siapa dapat menghentikan kecenderungan itu? 

(Raudal Tanjung Banua, pembaca sastra, tinggal di Yogyakarta. Bukunya yang baru terbit, Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan)  
 
 
Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Senin, 5 April 2021