Cerpen

Televisi Butut

D. Hardi
| Senin, 19 April 2021

D. Hardi

Bila diibarat sepotong wajah, adalah sejenis daya pikat gadis sebelum tersepuh produk kecantikanlah yang mampu menunda keinginannya beranjak ke kakus, semacam kesia-siaan untuk melengos dari bujukan waham barang sekejap meski tinja di penghujung terasa memampat ibarat seluncuran waterboom, telah teramat siap menciptakan debum, tubuhnya bagai menanggung berkilo-kilo sorgum untuk sekadar mengayun lima belas langkah menuju toilet duduk yang dibuat sejak ia payah mencangkung—seperti bocah main kelici—lantas tahan tercenung sembari mendengar rembet suara dari pemilik wajah berkepala dadu melantunkan sepotong musik, cuplikan berita mutakhir, lesatan iklan, atau sandiwara yang tiada habis panggungnya, sedang penciuman terlalu tabah mengisap secuil oksigen dari napas yang diembuskan lebih sering guna mengenyah aroma tak sedap dari ampas perutnya sendiri. Relungnya kembali terisi.
 
Cahaya memancar dari balik layar adalah keajaiban. Ia ingin di rumah bersahaja ini bunyi-bunyian tetap hidup. Menjadi udara. Karena waktu paling sunyi adalah waktu tanpa televisi. Sunyi yang entah bagaimana sistemnya bekerja, membuat bising ia punya kepala.
 
Dua dekade sejak istrinya lenyap dari kehidupan, benda itu ibarat makhluk peliharaan bernyawa—pada waktu tertentu bahkan lebih hidup dari tuannya.
 
Kadang ia belai, ia usap-usap dengan kelembutan seorang perawat menyeka pasien, meski terkadang ia getok tanpa sepenuh mangkel bila kapan waktu penemuan ajaib seorang Jerman itu mendadak ngadat, semata-mata pukulan sayang seorang sahabat. Saat sesuatu hal menjadi lucu, ia terbahak. Bila wajahnya sedih, ia ikut menangis. Bila di layar orang bersilat lidah, ia pun terbawa amarah. Tak banyak yang dilakukan dalam sehari, kecuali menonton televisi. Hanya benda itulah yang setia menemani hingga tertidur. Hingga berumur. Hingga di suatu hari, musim penghujan tiba tanpa ancang-ancang menggerojok runtuh ke Bumi, menusuk-nusuk dada, ketika suara menggelegar berbarengan dengan padamnya lampu turut membikin benda kesayangannya teler. Ia tak mau bangun. Persis wajah Arum malam itu. 
 
“Gusti, giliran aku kapan mati?” lenguhnya spontan, menatap wajah kotak dadu yang membisu. Ia cabut stop kontak, lalu mencoloknya kembali. “Semoga Tuhan mendengar doa lelaki sunyi,” Kasim membatin. Memejamkan mata, komat-kamit. Telunjuknya menekan tombol. Tetap tak menyala. Berulang kali ia tekan tombol dengan berbagai variasi bagai percobaan terakhir seorang dokter dengan alat kejut jantung, wajahnya tetap tak menyala. Wajah yang terempas zaman; serupa wajahnya.   
 
“Apa kamu kepanasan?” Ia belum menyerah. Kaca di layar terlihat kusam. Kasim kembali dengan lap basah untuk kemudian membasuh tipis merata sekujur lekuk tubuhnya tanpa kecuali. Menungguinya sesaat hingga mengering. Apa televisi bisa demam? “Mungkin dari debu,” pikirnya. Ia lantas meniup-niupkan udara di sisi yang berlubang. Itu bukan sepotong bibir. Sia-sia. Ia empaskan lagi bokong ke bantalan sofa. Memaliskan pandang ke luar jendela yang mulai gelap. Ah! Kasim berusaha tegak, mengeluhkan sedikit nyeri di kanan pinggul. Tangannya meraba-raba laci meja. Tinggal sebatang. Hanya cukup mengantar tidur. Ia lupa menyimpan lilin untuk persiapan lampu padam.
 
Cahaya redup merambati setengah ruangan. Menguak lagi apa-apa yang membisu di dinding yang mulai berakar retakan: piala bersepuh emas, piagam penghargaan dari pemerintah, pernak-pernik miniatur, buku-buku, mesin tik tua, gramofon, lukisan seorang gadis asing bergaya rococo, meja makan yang kosong, foto Arum dan anak-anak—mata Kasim berhenti di sana, lalu tenggelam semalaman.
 
***
 
“Pak, tinggal di sini saja sama kami.” Sesungguhnya suara di seberang sana sudah beberapa kali meminta. Perhatiannya terdengar tulus. Sejak Raya, putrinya, tiba-tiba berkeinginan melancong ke negeri Alpen untuk sekolah dan sepertinya akan berjodoh dengan lelaki bule, menetap di sana, darah dagingnya yang lain masih sesekali berkunjung di akhir pekan. 
 
“Halo, Pak?” Kasim membayangkan barang kesayangannya memalih wujud lebih ramping, dan datar, dan ia mesti berebut saluran favorit dengan cucu-cucunya ketika suara Raja terdengar samar. 
 
“Aku hanya kepengin kamu datang, menyervisnya.”
 
Ini permintaan kali ketiga. Tentu bukan Raja langsung yang menanganinya. Ia akan membawa televisi itu ke tempat reparasi barang rumahan yang masih mungkin untuk diperbaiki. Kedua tangannya jarang tersentuh perkakas. Ia lebih punya minat omong-omong, selain penyuruh. Sulungnya itu lebih pandai membongkar sesuatu untuk menjadi rusak selamanya. 
 
“Aku belikan TV baru ya, Pak?” Raja mungkin mampu menghadiahi Kasim televisi, setipis, selebar, secanggih apa pun, kecuali harapan yang tak terkabul. Artinya televisi kesayangannya bakal jadi rongsokan. Binasa di gudang berbaur tikus, debu-debu dan kencing kecoa. 
 
“TV itu peninggalan ibumu. Kami beli di Pasar Baru sewaktu kamu orok!”
 
Sekarang, orang bisa menonton apa pun lewat telepon pintar, kata Raja. Mau saluran apa saja, kerja, bahkan jualan dan belanja tak perlu repot ke luar rumah. Asal punya mantra bernama internet, bim salabim
 
“Saking pintarnya teknologi, manusia jadi bego. Sudah bagus punya istri baik, cari yang aneh-aneh di medsos. Lupa hapus jejak. Ketahuan. Perkawinan runyam. Penggantinya sekarang bahkan tak betah ngobrol sama mertua.” 
 
Suara di seberang sesaat bungkam.
 
 “Hhh, Bapak membahasnya terus. Ya sudah, sore saya ke sana.” 
 
Telepon mati. Seperti tepian rel kereta: ada lengang sehabis gemuruh lewat. “Apa aku keterlaluan?” 
 
Ah, mereka yang mudah berganti hati, mana mengerti. Kasim merebah di sofa, menghadapi wajah televisi. Ia sadar, bertahun-tahun lewat isi kepalanya telah dipenuhi acara televisi. Mungkin pula, kepalanya adalah televisi itu sendiri. 
 
Rekaman peristiwa yang kabur; kabar-kabar gembira, tragis menyedihkan, menyatu dengan latar musik yang murung, kadang bertempo cepat hingga menghentak, bergantung rayuan musim bagi setiap adegan yang saling berkelindan tak peduli fiksi atau realita, meruntut sangkala, menandai setiap momen. Rekaman itu menjadi kaleidoskop ingatan yang diputar saban akhir tahun, sebelum memulai tahun kelak yang bakal menjadi kenangan. Ia ingat, kelahiran Raja ditandai dengan berbagai pemberitaan soal pembersihan kota secara misterius dari para gali, bramacorah, orang-orang bertato. Sedangkan Raya, lahir di waktu-waktu kontradiksi; kejadian Berlin dan Tiananmen. 
 
“Permainannya membosankan.” Perempuan di sampingnya mengedipkan mata. 
 
“Heh?”
 
“Raya baru tidur, dari tadi maunya ditimang.”
 
“Sejak kapan kamu suka bola?” Kasim tertegun.
 
“Ini final? Aku pegang Jerman.” Ia terus berceloteh sembari memamah kacang.
 
“Enggak cinta mati sama Inggris?” 
 
“Dendam. Gol curang kok disebut Tangan Tuhan. Maradona belum cetak-cetak gol, kan? Kualat.”
 
“Bukannya kemarin Inggris dikalahkan Jerman?” Ia terlihat tak peduli.
 
Setengah jam babak kedua belum satu pun gol tercipta.
 
“Nomor tujuh belas! Penalti.”
 
“Brehme! Mampus kau Argentina ….”
 
Para pemain berhamburan merayakan juara. Maradona menangis. Meja berantakan penuh kulit kacang. Kopi tinggal bukur. Malam semakin hanyut. 
 
Perempuan itu merebahkan kepala di bahu. Kasim memeluknya dengan erat. Sangat erat. Seolah ini adalah malam terakhir. Mereka tak akan beranjak, seperti malam-malam sebelumnya setiap habis menonton film atau video musik, berdua akan terlelap hingga datang pagi. Semacam ritual.
 
“Apa kamu pernah dengar kisah ini: seseorang mati dan arwahnya masuk ke dalam TV.”
“Novel, atau film horor?”
“Kisah nyata.”
“Orang mati selesai dengan urusan dunia. Apalagi TV.”
“Kalau duluan mati, aku bakal bersemayam di TV.”
“Tak akan ada yang mati.” Kasim membelai dan mengecup rambutnya yang mulai rontok. Perempuan itu senyum. 
“Tidak sekarang. Tak boleh.”
 
Keduanya terpejam.
 
***
 
Ketika bel berbunyi, Kasim sedang memutar piringan hitam, “Waltz No. 2” milik Shostakovich mengalun lirih. Mengapa komponis Rusia di era Soviet kerap menulis komposisi melankolis meski ketukannya masih cocok untuk dansa di sebuah pesta, Arum pernah bilang itu adalah pesan yang samar untuk tirani; kritik tersembunyi. Sungguh melodi yang gampang diingat sekaligus menusuk. Nomor ini sangat dia suka, membuatnya terapung di sebuah zaman, hingga bel kedua dan seterusnya membikin siuman.
 
Ditengoknya dari balik kaca. Raja—ia lantas menggotong televisi tabung itu ke dalam.
 
“Beberapa komponen harus diganti.”
“Habis berapa?”
“Ah, Bapak,” Raja mengisyaratkan tangan, “cobain, Pak. Aku permisi dulu ke belakang.”
 
Kasim menyentuh benda kesayangannya dengan lembut. “Betapa tua wajahmu.” Ia tatap benda itu seperti takjub menatap Arum. Menciumnya. Mesin itu seakan beraroma masa lalu. Ia mengelap sekujur tubuhnya hati-hati. Menempatkannya secara presisi.
 
“Aku langsung ya, Pak.” Raja tiba-tiba muncul.
“Lho, duduk dulu. Ngopi. Masih terang kok,” pinta Kasim sungguh-sungguh.
“Lusa kan libur … aku boyong semua kemari.”
“Kayak tukang saja langsung pulang.” Mata Kasim memelas.
“Anak-anak butuh dibelikan sesuatu….”
“Cucuku, apa istri barumu.” 
“Pak….” Raja menghampirinya. Memeluk Kasim cukup lama, tanpa kata-kata lagi. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.  
 
Kasim mengangguk-angguk. Diantarnya anak lelaki itu sampai beranda hingga bayangannya lenyap sama sekali.
 
Jadi begitulah, Kasim kembali duduk di sofa menyalakan televisi kesayangannya, ibarat perjumpaan dengan kekasih yang telah lama pergi dan tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi setelah ia mengantuk dan tertidur pulas di sana, di hadapan kekasih yang telah memberinya makna sepanjang usia ini. 
 
Mungkin saat terbangun, hari-harinya akan berjalan seperti biasa, atau mungkin pula sesuatu, entah bagaimana, tiba-tiba memanggilnya; masuk ke dalam televisi.
Bojongsoang, Desember 2020
 
 
D. Hardi, seorang cerpenis yang tinggal di Bandung. Tulisannya telah dimuat di beberapa media cetak dan digital, seperti Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Solopos, Rakyat Sultra, Detik.com, Bacapetra.co, Magrib.id, Satupena.id, Beritabaru.co, dsb. 
 
 
Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Senin, 19 April 2021