Cerpen

Tentang Seekor Burung Bulbul di Langit Beirut

Edy Firmansyah
Rahim Jamal | Senin, 08 Maret 2021

Edy Firmansyah

Aku tengah memelukmu ketika ledakan itu mengguncang kita. Waktu itu kulihat gelembung api sebesar kepala gergasi sedang membumbung ke udara. Suaranya yang mengerikan terdengar hingga ke Siprus, 180 mil dari episentrum petaka di Pelabuhan Beirut. Langit berguncang. Bumi goyang. Rumah terbelah. Raga menjadi lemah. Pelukanku terlepas. Aku meluncur bagai roket menjelma seekor burung bulbul. Melintasi langit kelam Lebanon. Demi memungkasi sebuah lakon. 
 
Dalam terbang, dalam usaha mencarimu yang tiba-tiba menghilang, kusaksikan pemandangan serupa kiamat. Bangunan-bangunan di Beirut luluh lantak. Kaca-kaca berhamburan. Banyak kendaraan di sepanjang jalan terbakar, ringsek, dan berdebu. Setelah ledakan terjadi, di seluruh Kota Beirut terdengar suara orang-orang mengaduh. Suara orang-orang memanggil nama-nama dengan nada keluh. Mereka mencari-cari keluarga dan kerabatnya dengan nada getir yang luar biasa. Panggilan itu terdengar di mana-mana, seperti kor kematian, berkilo-kilometer jauhnya. Aku berkicau memanggilmu. Tapi suara kicauku tak lagi merdu, tetapi parau seperti derit gesekan besi karat rindu yang risau. Api masih menjalar bagai lidah naga lapar. Melumat segalanya jadi arang. 
 
Sungguh aku tak mau binasa dalam kesendirian. Terperangkap dalam kesunyian yang tak berkesudahan. Karena itu, dari ketinggian ini kukirimkan sinyal kerinduan lewat angin yang membawa debu dan asap ledakan. Kalau kau merasakan desir angin dan suara kicau burung yang murung itulah surat-surat yang kutulis dalam kepungan aroma benda terbakar, anyir darah, daging hangus, dan suara tangis yang tak putus-putus. Mudah-mudahan kau masih mengingatku. Merindukanku. Mudah-mudahan kau juga sedang mencariku sekarang. Apakah kau mendengarku, kekasih? Ataukah kau tak mendengarku dan tak pernah membaca surat-suratku karena surat-surat itu kutitipkan pada angin dan tak pernah kutempeli prangko? 
 
Di sini, di tempatku berdiri, di salah satu gedung tinggi, kulihat asap masih mengepul saat malam, kekasih. Seluruh kota gelap. Setiap orang yang terluka kesulitan berjalan tanpa penerangan. Mereka melangkah pelan seperti zombi. Beberapa merayap. Kulihat orang-orang berlumur darah. Kulihat seorang nenek berusia sekitar 80 tahun dirawat seorang lelaki tua yang berlari keluar dari rumahnya dengan perlengkapan bantuan pertama. Padahal, lelaki tua itu tengah terluka. Keningnya berdarah. Tapi, rupanya kemanusiaan tidak. Aku terharu melihatnya. Raungan sirine tak berhenti. Kadang menjauh, kadang begitu dekat. Sebuah rumah mendadak ambruk. Orang-orang berteriak. Tiarap. Sembunyi. Lari menyelamatkan diri dengan sisa tenaga yang dimiliki. Kekasih, aku mengkhawatirkanmu. Di manakah kau?
 
“Kalau langit dan bumi memberkati, tak akan ada yang sanggup memisahkan kita lagi,” katamu suatu kali sebelum ledakan itu terjadi. Aku diam saat kau mengucapkan itu. 
 
Tapi sungguh, diamku bukan berarti setuju. Cinta perlu diperjuangkan, kekasih. Sebab cinta tidak turun dari langit. Karena itu, kini aku berjuang sekali lagi menemukanmu, kekasih. Terbang berpusing mengelilingi Lebanon. Setidaknya, seandainya kau mati aku bisa membisikkan kata berpisah di sampingmu. Dan seandainya kau masih hidup, kita bisa bersatu lagi. Tentu saja kalau kau mengenaliku dengan wujudku yang sekarang ini. Bukankah cinta tak mengenal perbedaan raga? 
 
Dari ketinggian gedung aku meluncur turun ke dahan pohon kurma yang tumbuh rindang di pinggir Saint George Bay di Pantai Mediterania Utara. Malam makin gulita. Tapi aku tak bisa memejamkan mata. Mataku nyalang. Entah mengapa senyalang mata burung hantu memburu mangsa. Apakah karena asap kimia yang kuhirup itu? Aku tak tahu. Yang kutahu kesedihanku terus beranak-pinak bagai benalu di pohon jambu dalam rongga dadaku dan membuatku tak bisa mengatupkan mata. Oh, Tuhan, seandainya tetes air mataku adalah keajaiban yang bisa menyulap Beirut seperti sedia kala, aku akan menangis sampai aku tiada. Tapi apalah air mata. Hanyalah kerak dari setiap ratapan. Sekadar sesak pikir yang melipatgandakan penyesalan. Tapi aku menangis, Tuhan!
 
Dari pohon itu kulihat kehancuran infrastruktur pelabuhan utama Beirut. Ledakan besar yang disebabkan oleh penyimpanan amonium nitrat yang serampangan itu telah memusnahkan cadangan biji-bijian kota untuk pangan warga. Menyapu kota menjadi porak-poranda. Pelabuhan itu masih mengepulkan asap. Masih terlihat bunga-bunga api melambung ke langit bagai napas naga batuk. Oh, kotaku yang indah, kotaku yang suci. Kini tinggal puing-puing mati, sedangkan kekasihku hilang tak tentu pergi. 
 
Sungguh aku menyesal mengajakmu berlibur ke De Port Bay memandangi senja yang rebah di sela-sela tiang kapal di pelabuhan terbesar di Beirut itu. Mestinya kita tetap tinggal di Kiryat Luza, di lereng Gunung Gerizim, sembari berdoa atau berjalan-jalan menikmati situs kuil bangsa Sumeria. Dengan begitu, kita tak mengalami derita perpisahan karena sebuah ledakan gudang amonium nitrat yang penyebabnya masih simpang siur, karena kelalaian atau diserang sebuah rudal. Tapi, semuanya telah terjadi. Tragedi. Petaka. Perang. Mengapa tak kunjung berhenti di tanah bapak para nabi itu pernah berdiri? 
 
Tapi, penyesalan atas segala yang telah terjadi kini tiada lagi punya arti. Serupa hangat air mata yang masih terasa di pipi meski tangis tak kedengaran lagi. Bukankah hidup dikatakan hidup jika punya harapan? Dan kaulah harapanku wahai, belahan jiwaku. Maka yang perlu kulakukan sekarang adalah menemukanmu, melihat lagi wajahmu, entah hidup atau mati. Dengan begitu, aku merasa menggenggam lagi obor hari depan dan aku tak akan menyesal menjalani nasibku yang sekarang. Seekor burung bulbul di langit Beirut yang sendiri. Berpusing di udara hanya untuk meresapi hampa cinta. 
 
“Tapi bukankah jarak yang membuat rindu makin utuh dan bulat serta cinta makin kuat, Mahmoed?” tanyamu suatu kali saat aku melamarmu. Saat itu fajar baru menyingsing di pucuk Gunung Gerizim. Kita duduk di pintu pagar replika Villa Capra garapan Munib R. Masri sambil menyaksikan orang-orang menebar benih gandum. 
 
“Ya, bagi sebagian orang. Tapi bagiku, tidak, Isbel. Kau adalah aku. Aku adalah kau. Kita adalah sepasang merpati yang tak bisa dipisahkan kecuali oleh mati,” kataku. Kulihat pipimu merona. Dan kau menyandarkan kepalamu ke bahuku. Angin bersiur di antara pelepah-pelepah kurma. 
 
Lamunanku buyar saat sebuah ranting jatuh mengenai pipi. Kusaksikan malam meninggi lalu merambat pelan menyusuri dini hari. Rinduku padamu mengamuk dan aku belum jua mengantuk. Bayanganmu terus mendengkur dalam kepalaku yang penuh nyala rindu yang mendadak terang, mendadak padam, bagai lampu jalan yang mengalami korsleting. 
 
Pelan-pelan kusaksikan cerlang surya yang mulai merayap ke pucuk-pucuk gedung yang terbakar dan atap rumah yang berlubang, seolah Tuhan sedang memeriksa pasukannya yang baru saja kalah perang. Sekonyong-konyong kulihat bayangan seorang perempuan berbelok ke salah satu gang sempit kota tua Palestina. Rambutnya, gaya berjalannya, bahkan postur tubuhnya seperti dirimu. Perempuan itu mengenakan baju putih persis seperti yang kau kenakan saat terakhir kita berpelukan di flat itu. Aku terbang mengikuti bayangan itu. Aku susuri gang demi gang. Berteriak-teriak memanggil namamu dalam kicauku. Aku melambung tinggi ke udara. Memperluas pandang. Namun, bayangan perempuan itu seolah raib ditelan Palestina yang terluka. Yang kulihat hanya orang-orang terkapar serta pecahan kaca memadati jalan raya. Tuhan, seberapa panjang derita ini akan kami jalani?
 
Mendadak perutku mulas. Aku membuang kotoran dan tanpa sengaja mengenai seorang pemuda dan pemuda itu melempariku dengan batu. Saat aku bermanuver menghindari batu itu, kulihat bayanganmu lagi. Kini sedang berjalan menyeret kaki di antara ambulans di sebuah pertokoan. Sepertinya kau terluka. Aku bergegas terbang menghampirimu, tapi lagi-lagi kau menghilang. Apakah karena aku lapar sehingga pandangan mataku pudar? Memang semalaman itu aku begadang dan tak mencicipi makanan secuil pun. Kesedihan membuatku tak berselera makan malam itu. Tapi, pagi ini aku harus makan. Minimal minum seteguk atau dua teguk air dan seekor atau dua ekor cacing. Pencarianku belumlah usai.
 
Aku turun ke sebuah gundukan tanah. Sepertinya tempat pembuangan sampah. Aku gunakan cakar mungilku untuk menggali. Dan kulihat seekor cacing merah menggeliat mencoba meloloskan diri dari ujung paruhku. Tapi, dia terlalu lamban. Aku sudah menggigitnya dan menelannya. Segar rasanya mendapatkan energi untuk sarapan pagi ini. Aku terbang lagi, mencarimu. Berkicau. Memanggil namamu; Isbel! Permaisuriku!
***

 
Ketika ledakan itu terjadi aku melenting ke udara, tubuhku serasa seringan kapas. Aku ingat kau melepas pelukan karena melambung. Setelah awan tebal sisa ledakan yang menggumpal terurai disapu angin kering, aku meluncur ke tanah seperti rudal dan jatuh ke pembuangan sampah. Lantas, segalanya mendadak miring. Lalu gelap, pingsan. 
 
Saat terjaga dan merasakan hangat fajar tiba, aku melihatmu tersenyum dan segera berteriak memanggilmu. “Mahmoed ... Mahmoed, akhirnya kau menemukanku, kekasihku! Aku Isbel, Mahmoed! Isbel!” Tapi, kau tak mendengar apa pun. Karena kau tak pernah tahu ledakan itu telah mengubahku menjadi cacing yang kini berada di mulutmu. 



Tentang Penulis
Edy Firmansyah adalah penulis kelahiran Pamekasan, Madura. Dia mengelola Komunitas Gemar Baca (KGB) Manifesco, Pamekasan.  Buku kumpulan cerpen pertamanya yang pernah terbit berjudul Selaput Dara Lastri (IBC, Oktober 2010). Buku kumpulan cerpen keduanya yang bakal terbit berjudul Yasima Ingin Jadi Juru Masak Nippon (Cantrik Pustaka, 2021). Banyak artikel, cerpen, dan puisinya yang dimuat di media cetak nasional maupun daring: Kompas, Tempo, Jawa Pos, Media Indonesia, Republika, Suara Karya, Pelita, Seputar Indonesia, Suara Merdeka, Surya, Bali Post, Banjarmasin Post, Detik.com, Kompas.com, majalah Annida, dsb.
 
 
Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Senin, 8 Maret 2021