Cerpen

Tong Galentong

De Eka Putrakha
Rahim Jamal | Senin, 08 Februari 2021

De Eka Putrakha

    Sayup-sayup terdengar suara gerisik dedaunan yang terkibas langkah kaki-kaki kecil. Suara itu menarik perhatian sepasang mata untuk menyingkap gorden jendela rumahnya guna melihat ke arah halaman. Terlihat beberapa bocah tengah asyik memunguti jambu air yang berjatuhan. Lelaki tua itu tidak dapat berbuat banyak menyaksikan polah tingkah bocah yang sekarang berada di hadapannya itu. Dirinya hanya mematung dan sesekali matanya beralih ke tangan dan kaki kirinya yang tidak dapat bergerak lagi. Sudah hampir 2 tahun penyakit strok melumpuhkan setengah badannya. Hingga lidahnya pun begitu kaku dan susah berbicara walau hanya sepatah kata pun.

    “Ambil! Ambil saja sesuka kalian”! bentaknya dalam hati melihat bocah-bocah tadi belum beranjak dari halaman rumahnya. Matanya melotot merasa geram.

    Sesaat teringat olehnya ketika pertama kali menikah. Rumah yang ditempatinya adalah sejarah perjalanan pernikahan itu. Di sekeliling rumahnya ditanami bermacam-macam tanaman buah. Istrinyalah yang begitu telaten merawat hingga tak jarang banyak yang menyanjung “sentuhan” istrinya itu. Saat tanaman itu berbuah akan terlihat dari kejauhan buah-buahan yang lebat di pohonnya.

    Lelaki tua itu merasakan hidupnya kian pahit apalagi setelah kepergian istrinya. Keempat anaknya yang dulu mengisi harinya sudah berkeluarga dan hidup terpisah-pisah. Hanya si bungsu yang terpaksa merawatnya. Dalam hati, dirinya ingin segera melihat anak perempuannya itu segera menikah, tetapi apa dikata kondisinya sekarang lebih butuh diperhatikan.

    Anak bungsunya itu penyabar, sama dengan sifat istrinya. “Apakah nanti waktu akan memberikan kesempatan pada dirinya untuk menyaksikan anak perempuannya itu dipersunting seorang pemuda atau jika nanti memang sudah berkeluarga apa akan meninggalkannya juga seperti anak-anaknya yang lain?” pikirnya sejenak.

    Tiba-tiba terdengar suara patahan ranting. Bocah-bocah tadi ada yang berusaha memanjat pohon jambu air. Mata lelaki tua itu semakin melotot, tapi tak dapat berbuat apa-apa.

    “Mau kalian habiskan semuanya!” gerutunya tidak henti.

***
 
    Sekian tahun yang lalu ...

    Ada dua pohon ambacang dalam semak-semak yang tidak begitu jauh dari sebuah masjid desa. Sepulang mengaji seperti kebiasaan, ada beberapa anak yang mengarahkan langkahnya menuju semak belukar sebelum menuju rumah guna mencari buah tersebut. Buah bergetah mirip mangga dengan serat dan aroma lebih tajam itu kerap menjadi incaran anak-anak sepulang mengaji. Mereka dapat yang mengkal pun sudah cukup apalagi yang matang. Jika mengkal akan diperam, tetapi tetap terasa asam.

    “Apa tidak ada yang mengambil jika kita taruhnya di sini?” tanya Hamdan ragu.

    “Tenanglah. Jika berisik nanti yang lain akan mengetahui kita menyembunyikannya di sini,” jawab Nirwan dengan suara setengah berbisik.

    Membawa buah ambacang pulang ke rumah sama halnya akan membuat murka orang tua. Buah bergetah itu akan mengenai baju dan akan sulit dihilangkan. Selain baunya yang tajam, buah tersebut akan mengundang pertanyaan besar sebab didapatkan dengan tidak meminta terlebih dulu. Insting bocah menganggap pohon buah dalam semak belukar tidak akan ada pemiliknya.

    Tong galentong, sia maabiak tangannyo potong!” (siapa yang mengambil tangannya buntung), ucap Nirwan sambil melambaikan tangannya tepat di atas rerumputan tempat mereka menyimpan buah ambacang yang didapat.

    “Hus! Apa yang kamu ucapkan barusan, Wan?” sanggah Hamdan seketika.

    “Ya, siapa yang berani mengambil buah ini tangannya akan buntung.”

    “Apa-apaan kau ini. Kita sekarang juga sedang mengambil punya orang! Jika nanti ada yang menemukan buah yang kita simpan ini, ya, anggap saja orang itu beruntung,” sanggah Hamdan. “Lagi pula guru ngaji kita tidak mengajarkan mantra-mantra tidak jelas seperti yang kau ucapkan tadi,” sambungnya.

    “Ya, tenanglah! Ini sudah milik kita. Selama ini hanya kita berdua yang sering ke sini. Kalau dapat kedua pohon ambacang ini aku mantrai juga seperti yang kau tuduhkan itu!” pungkas Nirwan.

    “Ada-ada saja kau ini. Seharusnya tangan kita sudah buntung karena sering mengambil buah ambacang milik orang, termasuk kaki yang sudah menginjak tanah milik orang ini.”

    “Terserahlah! Berarti pemiliknya tidak mengucapkan mantra itu barangkali.”

    “Kau saja!”

***
 
    Seorang pemuda menempati sebuah rumah baru bersama istrinya. Mereka akan memulai kehidupan baru bersama. Halamannya luas dan di depannya ada jalan yang sering dilalui oleh orang-orang menuju masjid. Istrinya berkeinginan untuk menanam berbagai jenis buah dan pemuda itu menyetujuinya.

    Serumpun pisang di belakang rumah, alpukat di samping, dan jambu air merah tepat di halaman depan rumah. Berharap suatu hari nanti pohon-pohon tersebut berbuah dan memberi manfaat bagi siapa pun. Pemuda itu ialah Nirwan. Dirinya yang menyetujui keinginan istrinya itu asalkan untuk kebahagiaan keluarga mereka.

    Seiring waktu, rumah tangga yang dibangunnya telah lengkap dengan kehadiran empat orang buah hati. Benar saja, seiring tumbuh kembang anaknya, seiring itu juga tanaman yang dulu ditanamannya tumbuh dan berbuah. Terlebih jambu air merah yang begitu lebat di depan rumah. Dari kejauhan akan tampak buah-buah ranum yang bergantungan pada ranting cabangnya, membuat siapa pun yang melihat akan tergiur untuk mencoba.

    “Orang-orang hanya meminta!” gerutu Nirwan pada istrinya suatu ketika.

    “Tak apalah, Bang. Buah sebanyak ini mau diapakan juga.”

    “Kita sudah payah menanam dan merawat. Orang lain hanya meminta?”

    Istrinya hanya menggelengkan kepada tanda tidak setuju dengan ucapan Nirwan.

    “Atau buahnya kita jual saja kalau begitu.”

    Istrinya tetap diam. Dirinya menyerahkan sepenuhnya saja kepada Nirwan.

***
 
    Saat itulah Nirwan memutuskan untuk menjual semua buah di sekitar rumahnya. Awalnya masih ada tetangga yang datang sekadar berbincang-bincang dengannya, tetapi gelagat demikian sudah ditangkap olehnya. Ujung-ujungnya akan membawa buah gratis dari halaman rumahnya dan kali ini tidak akan lagi terjadi. Keputusannya sudah bulat, jika ingin buah, ya, harus mengeluarkan uang.

    “Tak usahlah, Bang, kalau buat tetangga!” sanggah istrinya.

    “Ah, sama saja. Pura-pura mampir mengajak ngobrol, tetapi akhirnya berharap buah. Aku juga tidak mau terus-menerus seperti ini, kita yang rugi. Mereka terlalu memanfaatkan kebaikan kita.”

    Istrinya hanya bisa mengurut dada mendengar penjelasan dari Nirwan. Hingga akhirnya istrinya itu tidak begitu semangat lagi merawat tanaman di sekitar rumahnya. Oleh karena itu, kegiatan berkebun tidak lagi menarik minatnya. Lambat laun karena kurang gerak dan banyak pikiran, istrinya sudah mulai sakit-sakitan hingga penyakit tua mengantarkannya pergi untuk selamanya.

    Entah kebetulan atau tidak, satu demi satu tanaman di sekitar rumah itu pun mulai tidak berbuah lagi. Terlihat ringkih dan akhirnya mati kering. Yang masih tersisa hanyalah sepohon jambu air merah di halaman depan rumah dan masih berbuah. Karena tidak adanya yang meminta seperti dulu, buah jambu tersebut banyak yang berjatuhan dan mengotori halaman. Dijual pun tidak akan ada yang membeli. Namun, Nirwan masih tidak ikhlas jika ada yang sengaja masuk ke halaman rumahnya dan mengambil jambu gratis.

    Pikiran lelaki yang sudah mulai uzur itu masih dipenuhi syak wasangka yang berlebihan, hingga penyakit strok melemahkan separuh anggota badannya. Tetangga tidak akan ada yang menjenguk karena sifatnya telah menjauhkan keramahtamahan itu darinya.

    “Tong galentong, sia maabiak tangannyo pontong!”

    Oh, betapa menyesalnya dirinya menyadari sebelah tangannya tidak berfungsi lagi. Tangan yang “dipotong” oleh perkataannya sendiri atas dasar sifat tamak dan kikir itu. Dirinya hanya menunggu hari, tapi entahlah dengan satu-satunya pohon jambu yang masih rindang berdiri. Nirwan menekur cukup lama. Kesunyian itu semakin membuat dirinya benar-benar merasa diasingkan.
 
*

*tong galentong: hanya sebatas pengucapan untuk kesesuaian dengan bunyi kata “potong”, tidak ada unsur mistis atau sejenisnya dan hanya diucap berkelakar. Tong galentong juga semacam suara benda yang biasa dikalungkan ke kerbau.

 
 
BIODATA:
De Eka Putrakha. Profilnya dapat dibaca dalam buku Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid 6, Forum Aktif Menulis Indonesia. Tulisannya dimuat di beberapa media cetak dan online serta pada lebih dari 100 judul buku antologi. Buku tunggalnya, antara lain, Hikayat Sendiri (2018) dan Perayaan Kata-Kata (2019). Baru-baru ini, ia terpilih sebagai Pemenang 10 Resensi Terbaik pada “Resensi Buku Peringkat ASEAN 2020” anjuran Persatuan Penyair Malaysia, dsb. Ia dapat dihubungi via Facebook: De Eka Putrakha, Instagram: @deekaputrakha.
 
 
Sumber: Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Harian Rakyat Sultra pada hari Senin, 8 Februari 2021